Mailing List GKP

Tentang GKP
Lingkung GKP
Klasis Purwakarta
Klasis Bogor
Klasis Priangan
Klasis Jakarta
Klasis Cirebon
Lembaga
Lain-lain

GKP Cikembar

Alamat: Jalan Pelabuhan II Km 18 Cikembar 43161, Sukabumi
Telepon: 0266-321252

Gembala yang melayani :

1887 – 1931 : Para Zendeling NZV

1931 – 1934 : Pdt. Satinis Oebeng

1934 – 1968 : Pdt. Misael Nyaman

1968 – 1984 : Pdt. Surianata Kaiin

1984 – 1989 : Konsulen (Pdt. Engkih Gandakusumah, S.Th.)

1989 – 1998 : Pdt. Ferly David, S.Th.

1998 – 2000 : Konsulen (Pdt. Rosi Johandi)

2000 – 2001 : Pdt. Adama Sihite, S.Th.

2001 – 2003 : Pdt. I. Putu Suwintana, S.Th.

2001 – sekarang : Pdt. Onesimus Dani, S.Si.

Keberadan jemaat di Cikembar tidak terlepas dari kehadiran Zendeling S. van Eedenburg di sana. Pada mulanya ia membeli sebidang tanah perkebunan seluas ± 111 ha pada tahun 1886 yang disiapkannya untuk menanam tanaman teh, kopi, cokelat, lada, dan kapuk. Untuk mengolah perkebunan itu, ia membuat permukiman, lalu menempatkan keluarga Kristen yang berasal dari Sukabumi sebagai buruh di sana. Ia sendiri masih tinggal di Sukabumi.

Perkebunan itu kemudian dikenal dengan Perkebunan “de Hoop” atau “Perkebunan Pangharepan”.

Pada tahun 1887 serombongan keluarga Kristen bergabung ke sana. Mereka berasal dari jemat-jemaat Anthing yang tinggal di Sukabumi, yang datang ke sana di bawah pimpinan Bpk. Sariun.

Pada bulan November 1988 , Zendeling S. van Eedenburg pindah dari Sukabumi ke Cikembar beserta keluarganya. Ia menjadi gembala jemaat di sana sekaligus sebagai administrator perkebunan.

Yang menarik dari Zendeling S van Eedenburg adalah ia memberi kesempatan kepada masyarakat untuk menggarap dan mengolah tanahnya. Namun, masyarakat harus memenuhi syarat yang diberikannya. Syarat-syarat itu, antara lain mereka harus membayar cukai 20% kepada gereja, dilarang bekerja pada hari Minggu, dilarang menanggap ronggeng/topeng, dilarang berjudi, dilarang minum minuman keras, dan harus menyekolahkan anak-anaknya.

Selain sebagai gembala jemaat, karena Zendeling S van Eedenburg juga memunyai latar belakang pendidikan sebagai dokter, ia kemudian membuka poliklinik umum dan rawat inap untuk masyarakat. Tidak hanya itu, ia juga membuka berbagai pendidikan, antara lain SD siang (Dagschool), SD malam untuk orang biasa (Avonsdschool), sekolah menjahit (Naarschool), sekolah menganyam (Viechtschool), Sekolah Minggu (Zondagschool), dan memberikan pelajaran musik bagi jemaat. Pelajaran musik di lingkungan jemat itu kemudian memunculkan jenis kesenian di luar kebudayaan asli Sunda, yaitu strijorkes dan blaasmuziek (sejenis tanjidor).

Gedung gereja di Cikembar sendiri didirikan pada tahun 1887 dengan jumlah awal anggota jemaat sebanyak 46 orang. Namun, pada tahun 1888 jumlah jemaat bertambah menjadi 73 orang, dan menjadi 229 orang pada tahun 1889.

Seiring dengan berjalannya waktu dalam dinamika pasang surut sejarah pelayanan jemaat, pada saat ini anggota jemaat yang tercatat adalah sebanyak 187 KK atau ± 600 Jiwa. Jemaat terdiri atas berbagai suku bangsa, seperti Sunda, Jawa, Ambon, Batak, Toraja, Kalimantan, Nias, dan Kupang.