Mailing List GKP

Tentang GKP
Lingkung GKP
Klasis Purwakarta
Klasis Bogor
Klasis Priangan
Klasis Jakarta
Klasis Cirebon
Lembaga
Lain-lain

GKP Gunung Putri

Alamat: Jalan Gardu Tol Gunung Putri, Gunung Putri-Bogor 16961
Telepon: 021-8672313

Gembala yang melayani :

1863 – 1883 : Para Penginjil Mr. Anthing

1883 – 1885 : Mulyadikrama Leonard

1885 – 1934 : Para Zendeling NZV.

1934 - 1941 : Pdt. Biltam Elia

1941 – 1947 : Konsulen ( Pdt. Kristian Elia)

1947 – 1966 : Pdt. Sanyah Majan

1966 – 1969 : ?

1969 – 1974 : Konsulen (Pdt. Rossie Johandi ).

1974 – 1984 : Pdt. Agustinus Atua

1984 – 1987 : Konsulen (Pdt. Tresna Purnama, S.Th ).

1990 – 1999 : Pdt. Lely F. Sundoro, S.Th.

1999 – 2001 : Konsulen (Pdt. Rossie Johandi).

2001 - 2006 : Pdt. Kelana Noron, S.Th.

2007 - skrg : Konsulen (Pdt. Megiana Hanafiah, S.Th, M.Min.)

Awal berdirinya GKP Jemaat Gunung Putri, diawali dengan baptisan pertama yang dilakukan pada tahun 1863 atas nama Rainem dengan nama baptis Daud, Alidin dengan nama baptis Kefas, Djiun Djiran dan Asah.

Setelah Anthing meninggal pada tahun 1883, Jemaat Gunung Putri dilayani oleh Mulyadikrama Leonard, salah seorang murid Anthing yang selanjutnya menggantikan Anthing. Jemaat Anthing pada masa itu berkembang namun hidup sendiri seolah-olah tidak ada pengasuhnya. Mengetahui hal ini Nederlandsche Zendings Vereeniging (NZV) yang pada tahun 1863 mulai melaksanakan misi pekabarkan Injil di wilyah Jawa Barat, mengajak Jemaat-jemaat Anthing bergabung. Pada tahun 1885, penggabungan itu dilaksanakan dan sekaligus juga dilakukan peresmian penggunaan rumah ibadah (gedung Gereja) yang pertama di Gunung Putri yang dibangun di atas tanah milik Kefas Kaiin. Peresmian itu terjadi pada tanggal 25 November 1885.

Selanjutnya dari tahun 1885 sampai dengan penyerahan pemeliharaan dan pelayanan Jemaat dari NZV kepada Rad Ageng tahun 1934, Jemaat GKP Gunung Putri mengalami beberapa pergantian pelayanan.

Pada masa kekuasaan Jepang, para Zendeling yang bekerja di Indonesia ditangkap dan dimasukkan ke dalam kamp tawanan. Namun pemerintah Jepang tidak menghambat kehidupan Gereja. Hanya saja Gereja tidak boleh melakukan hubungan dengan gereja-gereja luar negeri. Keadaan ini menyebabkan GKP sepenuhnya berdiri sendiri.

Saat memasuki masa revolusi (1945 – 1949) , kekuasaan Jepang berakhir karena menyerah pada Sekutu. Indonesia memproklamirkan kemerdekaanya tanggal 17 Agustus 1945. Namun saat itu, situasi belum stabil sehingga terjadi penganiayaan terutama kepada orang-orang Kristen karena masyarakat Jawa Barat menganggap bahwa agama kristen adalah unsur asing yang harus ditolak. Orang Sunda yang beragama Kristen tidak lagi dianggap sebagai bagian dari kehidupan masyarakatnya. Dan di beberapa tempat seperti GKP Jemaat Cigelam, Kampung Sawah dan termasuk GKP Jemaat Gunung Putri mengalami tindakan pengacauan. Hal ini memaksa jemaat untuk mengungsi ke Bogor dan Jakarta atau ke tempat-tempat lain yang dianggap aman.

Tahun 1948 keadaan mulai membaik sehingga warga Jemaat GKP Gunung Putri kembali dari pengungsian. Dan atas prakarsa Bapak Suramin Majad, maka dibentuklah panitia yang bertujuan untuk membantu dan memandu pemulangan kembali para pengungsi. Panitia itu diberi nama : “Perkumpulan Pembangunan Kristen Gunung Putri” (PPKGP) dengan susunan pengurus (di Jakarta), Ketua : Saarin Majan.Sekretaris I : Suramin Majan; Sekretaris II : Asnat Sairin. Bendahara : Tomasoa. Yang berada di Gunung Putri, Ketua : Wikanda Daud, Kornelis Daud; Sekretaris : Atjem Daun, Inem Alio. PPKGP bekerjasama dengan PMI dan Palang Merah Belanda, mengupayakan kemudahan pulang kampung bagi warga Jemaat dan memberi sekedar dana untuk membantu meringankan pembangunan kembali rumah-rumah Jemaat. Setelah banyak warga Jemaat yang pulang, dibangunlah rumah ibadah sederhana dengan ukuran 7 x 12 M. Kemudian jemaat memanggil pelayan jemaat yaitu seorang Guru Injil dari Jemaat Jatibarang Bpk. Sanyah Majan yang pada tanggal 22 Ajuni 1947 ditahbiskan ke dalam jabatan Pendeta di Gereja Rehoboth, Jakarta. Majelis jemaat pada saat itu adalah : Enoh Djiun, Samad Daud, Inen Alio dan Atjem Daud.

Pada tahun 1949, setelah hampir seluruh warga jemaat kembali, diadakan pembenahan-pembenahan yaitu pendaftaran ulang anggota jemaat dan mengadakan persiapan untuk membangun rumah ibadah yang lebih baik. Tahun ini merupakan tahun penuh gairah dan semangat bagi Jemaat Gunung Putri. Tua-muda turut ambil bagian bekerja bakti mengumpulkan bahan bangunan untuk renovasi rumah ibadah. Secara gotong-royong mereka mengambil pasir dari sungai Cileungsi dan batu dari gunung Putri. Bahkan semen dibuat sendiri dari bahan tanah merah. Untuk bahan kayu banyak Jemaat yang menyumbangkan pohon-pohon untuk dijadikan balok dan papan. Dari hasil kerja keras itu berdirilah gedung Gereja dengan ukuran luas 8 x 23m berlantai semen dengan nama “Hebron”. Gedung gereja ini diresmikan pada tanggal 22 November 1952. Hadir dalam acara peresmian itu Pdt. Yousa Anirun dan Pdt. Yakin Elia sebagai Ketua dan Sekretaris Rad Ageng.

Pada tahun 1966 Pdt. Sanyah Majan memasuki masa emiritus. Selama tiga tahun Jemaat hanya dilayani oleh Majelis Jemaat. Baru pada tahun 1969 Jemaat GKP Gunung Putri mendapat pelayan Pendeta, yaitu Pdt. Rossie Johandi sebagai konsulen dari GKP Jemaat Bogor, yang turut membantu sampai tahun 1974. Selanjutnya dari tahun 1974 sampai dengan tahun 1982 Pemerintah membangun jalan bebas hambatan Tol Jagorawi. Sebagian tanah Gereja termasuk gedung Gereja terkena proyek tersebut. Maka dibangunlah gedung Gereja yang baru dengan memakai dana ganti rugi dari proyek itu. Pada tahun 1983 diresmikan oleh Pdt. Weinata Sairin,M.Th. sebagai Sekum BP Sinode GKP.

Pada tahun 1984 – 1987 Jemaat dilayani oleh Majelis Jemaat setempat, yaitu : Sukendar Kaidun, Hadiwinata, Kaniati, Eha Zakeus, Wikanda Daud, Suhanda Elia, Lazarus Djalimun, Suyamto dan Sudarsono dibantu oleh Pdt. Tresna Purnama,S.Th sebagai Pendeta Konsulen.

Pada tahun 1988, Sdr. Lely F. Sundoro, S.Th dipanggil menjadi Vikaris dengan majelis Jemaat saat itu adalah : Rahmat Sailun, Hadiwinata, Sudarsono, Sukendar Kaidun, Alaida Mosse, Sofiah Rikin, Sael Sain, Eka Daud dan Supria Dewangga. Dan pada tanggal 26 Oktober 1990, Vikaris Lely F. SundoroSTh. ditahbiskan ke dalam jabatan pendeta.

Pada tahun 1992 Jemaat membangun gedung serba guna yang diselesaikan selama dua tahun. Gedung itu diberi nama “Efata” yang diresmikan pada tanggal 4 September 1994 oleh Pdt. Hada Andriata,DPS.selaku ketua BP.Sinode.

Setelah Pdt. Lely F. Sundoro, S.Th mengakhiri masa pelayanannya pada tanggal 28 Maret 1999, Jemaat GKP Gunung Putri memanggil Pdt. Rossie Johandi sebagai Pendeta Konsulen. Dan pada tanggal 25 Juli 1999 Majelis jemaat : Alaida M, Laksana Gunawan Dani, Wijaya Daud, Sumarja Sailun, Sabita Sonda, Haryadi, Rahmat Sailun, Sahati, Sumaryadi, Peres Sadono, Nurhasanah, Supria Dewangga, Nia Daud dan Yosep Supar, memanggil Sdr.Kelana Noron S.Th sebagai Vikaris di GKP Jemaat Gunung Putri, kemudian ditahbiskan sebagai Pdt. Kelana Noron STh melayani sampai tahun 2006. Sekarang dilayani konsulen Pdt. Megiana Hanafiah STH.M.Min.