![]() |
GKP SukabumiAlamat : Jalan Suryakencana no.41 Sukabumi 43114 Gembala yang melayani : 1872 – 1934 : Para Zendeling NZV 1934 – 1953 : Pdt. Satinis Oebeng 1953 – 1965 : Pdt. Habandi, BTh. 1965 – 1972 : Pdt. Kurnia Atje Sujana, S.Th. 1972 – 1978 : Pdt. Wiharja Jian, S.Th. 1978 – 1980 : Konsulen ( Pdt. Tresna Purnama, S.Th.) 1980 – 1981 : Konsulen ( Pdt. K. Suryanata) 1981 – 1994 : Pdt. Engkih Gandakusumah, S.Th. 1994 – 1996 : ? 1996 – 2005 : Pdt. Deru Utama Noron, S.Th. 2005 – 2006 : Konsulen (Pdt. Robby E. Rumbayan) 2006 – sekarang : Pdt. Gumilar Kristianto, S.Si. Pada tahun 1867 seorang zendeling yang bernama S. Coolsma datang ke Sukabumi untuk meninjau kemungkinan mencari tempat pengabaran Injil. Dari hasil peninjauan itu, kemudian NZV mengutus Zendeling P.N. Gijsman untuk menabur “benih” di Sukabumi pada tahun 1872. Berikut adalah para pelayan Tuhan yang melayani di Sukabumi. 1) Zendeling P.N. Gijsman (1872–1880) Gijsman memulai pelayannya di Sukabumi dengan membuka sekolah. Namun, hanya sedikit orang Sunda yang mendaftar. Pada tanggal 22 Maret 1874 Gijsman mencoba mengadakan kebaktian dengan mengundang orang tua murid pribumi. Namun, hal itu juga tidak berhasil karena tidak ada yang mau datang. Pada bulan Agustus 1874, Zendeling Gijsman meminta bantuan kepada Mr. Anthing agar mengirimkan para pemuda untuk membantunya dalam pengabaran Injil tersebut. Untuk itu, pada bulan Oktober 1874 datanglah tiga orang pemuda dari Poristopel (Tanah Tinggi), yaitu Saloe (22 thn), Sarioen (21 thn), dan Iska (20 thn). Namun, hanya dua orang yang kemudian dipakai dalam PI. Hal itu dikarenakan salah seorang dari mereka kurang cakap. Pada tahun 1876, Zendeling P.N. Gijsman mulai mengadakan lagi kebaktian yang selama itu terhenti dengan bantuan dua orang pemuda itu. Kedua pemuda itu ternyata mampu memberikan teladan yang baik dalam kehidupan sehari-hari mereka. Akhirnya, pelayanan mereka membuahkan hasil. Pada pada tanggal 1 April 1877, bertepatan dengan perayaan Paskah, Zendeling P.N. Gijsman membaptis Bpk. Aman, seorang tukang kebun, Ibu Ami, istrinya, dan tiga orang anak mereka: Tejo, Tewi, dan Ijoed. Bahkan, sampai dengan tanggal 30 September 1877, jemaat bertambah menjadi 12 orang, yaitu 8 orang dewasa dan 4 orang anak. Pada tahun 1878–1979 anggota jemaat bertambah lagi dengan masuknya satu keluarga, yaitu Sadjiin (pak Edjle), isterinya (Arti atau Ma’Onah), dan seorang anaknya yang berumur 8 tahun. Pada minggu kedua bulan Januari 1879 anak perempuan kedua mereka juga dibaptis. Pada akhir tahun 1879 dibaptis pula seorang yang bernama Antas. 2) Sarioen (1880–1881) Pada tahun 1880, Zendeling P.N. Gijsman harus kembali ke Belanda karena istrinya sakit keras. Jemaat Sukabumi kemudian dipimpin oleh Sarioen, di bawah pengawasan zendeling C. Albers yang datang dua minggu sekali dari Cianjur. 3) Zendeling S. A. Schilstra (1881–1882) Pada bulan Mei 1881 Zendeling S.A. Schilstra, atas permintaannya sendiri, pindah dari Sumedang ke Sukabumi untuk membantu pelayanan di Sukabumi. Namun, pelayannya tidak berlangsung lama karena ia dan istrinya menderita sakit. Mereka kemudian kembali ke Netherland pada awal tahun 1882. 4) Zendeling C. Albers (1882–1883) Pada hari Paskah tahun 1882 Zendeling C. Albers membatis Oey Keng Tjiat bersama isterinya yang bernama Djaisem. Beberapa orang lainnya juga dibaptis pada tahun itu sehingga jumlah anggota jemaat bertambah menjadi 16 orang. 5) Zendeling S. van Eendenburg (1883–1885) Zendeling S.van Eendenburg datang ke Sukabumi pada bulan Maret 1883. Lima bulan kemudian (Agustus 1883) jumlah anggota jemaat sudah mencapai 24 orang. Karena jumlah jemaat sudah cukup banyak, ia merasa perlu untuk memilih dan mengangkat majelis gereja. Oleh sebab itu, pada tanggal 25 Mei 1884 zendeling S.van. Eendenburg melantik Sarioen dan Siman sebagai majelis gereja. Pada akhir tahun 1884 jumlah anggota jemaat sudah berkembang menjadi 45 orang, 33 orang di antaranya sudah dapat mengikuti perjamuan kudus. 6) Zendeling H. Muller Dkk.(1885–1897) Pada Tahun 1887 zendeling H. Muller mengumpulkan sumbangan untuk membangun gedung gereja di Sukabumi. Dengan dana yang terkumpul saat itu, yaitu sebesar 1.000 Gulden, dibangunlah gedung gereja mungil. Gedung gereja itu diresmikan pada tanggal 11 September 1887. Pada tanggal 1 November 1988 ia pindah ke Cikembar. Sejak saat itu, di Sukabumi tidak pernah lagi ditempatkan seorang zendeling secara tetap. Kegiatan pelayanan kemudian dibantu oleh zendeling dari Pangharepan, Bandung, dan Cigelam, seperti Zendeling J.H. Blinde, Zendeling J. van Banthen, dll. Sebagai pembina jemaat di Sukabumi ditunjuklah Bapak Mattias Salim. Dari tahun 1889–1894 sudah dilakukan baptisan terhadap 32 orang Tionghoa dan 2 orang bukan Tionghoa. Dengan demikian, sampai dengan akhir tahun 1894, jumlah anggota jemaat di Sukabumi menjadi 79 orang. Pada bulan September 1895, Zendeling S.van Eedenburg membaptis empat orang Tionghoa, yang salah satu di antaranya bernama Tjoa Beng Yang. Sampai dengan awal tahun 1900 jemaat Sukabumi terdiri atas seorang pembina, yaitu Bpk. Mattias Salim dan 122 anggota jemaat (106 orang Tionghoa dan 16 orang pribumi). 7) Zendeling A.J. Bliek (1921–1930) Pada masa pelayanan zendeling A.J. Bliek, di Sukabumi dibuka Sekolah Kepolisian. Keberadaan sekolah itulah yang kemudian membawa banyak orang dari Minahasa, Maluku, Timor, Irian, dan daerah lain menjadi anggota jemaat Sukabumi. 8) Zendeling S van der Linde (1930–1934) Pelayanannya di Sukabumi tidak diketahui secara jelas. Namun, setelah kepindahannya ke Cirebon, jemaat di Sukabumi dilayani oleh pendeta pribumi, yaitu Pdt. Satinis Oebeng. Ia adalah pendeta pribumi pertama yang ditahbiskan. Penahbisannya dilaksanakan di Bumi Pengharepan pada tahun 1934. 9) Pdt. Satinis Oebeng (1934–1953). Ketika Pdt. Satinis Oebeng melayani di jemaat Sukabumi (ia pindah ke Sukabumi pada tahun 1943), pemerintah Belanda mengadakan pemisahan antara jemaat pribumi dan jemaat Tionghoa, yaitu pada tahun 1936. Pemisahan itu mengakibatkan orang-orang Tionghoa di Sukabumi kemudian bergabung dengan Tiong Hwa Kie Tok Kauw Hwee Khoe Hwee (THKTKHKH) Jawa Barat, yang kemudian sekarang disebut Gereja Kristen Indonesia (GKI) . Pada tanggal 12 Februari 1939 diadakan persetujuan antara Sinode GKP dan Sinode THKTKHKH untuk mengadakan pemisahan. Akhirnya, pada tanggal 5 Maret 1939 terbentuklah dua jemaat, yaitu GKP Jemaat Sukabumi dan GKI Jemaat Sukabumi meskipun kedua jemaat itu masih mempergunakan satu gedung gereja. Untuk itu, diadakan pembagian waktu kebaktian sebagai berikut. Pukul 07.00 WIB kebaktian diadakan untuk THKTKHKH dan pukul 09.00 WIB kebaktian diadakan untuk GKP. Setelah Pdt. Satinis Oebeng sakit, lama sekali GKP Sukabumi tidak memunyai pendeta. Oleh sebab itu, majelis jemaatlah yang harus mengurus jemaat. Jemaat Sukabumi kemudian dilayani oleh Pdt. M.K. Tjakraatmadja. Setelah itu, Pdt. Saptoyo yang melayani di sana. Namun, ia kemudian pindah ke Irian. 10) Pdt. Habandi BTh. (1953–1965) Setelah menyelesaikan pendidikan teologi di STT Jakarta, pada tanggal 22 Agustus 1953 Pdt. Habandi BTh. di tahbiskan menjadi pendeta GKP Jemaat Sukabumi. Pdt. Habandi dikenal akrab dengan jemaat dan pemerintah daerah. Kedekatannya dengan pemerintah daerah membuatnya dipercaya untuk melayani pencatatan sipil. Ia juga dipercaya oleh DGI untuk mengelola Gedung Pusat Pembinaan Wisma Oikumene sebagai direktur dan pembina. Dalam masa pelayanannya, Pdt. Habandi, BTh. melayani dua jemaat, yaitu GKP dan GKI. Bahkan, ia mengajar katekisasi bagi sejumlah orang yang kemudian masuk dan menjadi anggota jemaat GKP dan GKI. Pada tahun 1960-an ia pernah melayani baptisan beberapa keluarga di Surade. Namun, karena kerasnya tekanan dari masyarakat Surade, sekitar tahun 1966 hanya tinggal tiga keluarga yang dapat bertahan. Pada bulan Februari 1964, Sdr. Kurnia Atje Sudjana, STh, dipersiapkan untuk melayani GKP Sukabumi dan menggantikan Pdt. Habandi, BTh. yang dipilih menjadi Ketua BP Sinode GKP. 11) Pdt. Kurnia Atje Sudjana STh. (1965–1972) Pada tanggal 1 Agustus 1965 Sdr. Kurnia Atje Sudjana STh ditahbiskan menjadi pendeta jemaat. Pendeta yang dikenal akrab dengan warga jemaat itu juga diakui oleh pemerintah setempat sebagai guru agama Kristen di SMAK. Pelayanan yang dilakukannya dengan keterbatasan alat transportasi memiliki kesan tersendiri bagi jemaat pada waktu itu. Pada bulan Agustus 1972 Pdt. Kurnia Atje Sujana STh, diangkat menjadi Sekretaris Umum BP Sinode GKP sehingga pelayanan jemaat digantikan oleh Pdt. Wiharja Jian STh. 12) Pdt. Wiharja Jian STh. (1972–1978) Pdt. Wiharja Wiharja Jian STh. menjadi pendeta GKP Jemaat Sukabumi pada bulan Agustus 1972. Pada masa pelayanannya, administrasi gereja ditingkatkan. Ia juga mengajak jemaat untuk mencatat segala sesuatu, baik mengenai rencana maupun kegiatan jemaat. Program kegiatan jemaat itu kemudian ditulis dalam buku “Langkah Jemaat”. Di samping itu, ada juga buku “Data Anggota Jemaat”. Pada masa pelayanannya gedung gereja di Jln. A. Yani No. 167 dipindahkan ke Jln. Suryakencana No. 41 Sukabumi. Dalam pembangunan gedung gereja baru, pastori, dan tempat tinggal koster itu, ia melibatkan peran serta anggota jemaat. Peletakan batu pertama gedung gereja yang baru itu dilaksanakan pada tanggal 6 Agustus 1975 oleh Walkotamadya DATI II Sukabumi, Bpk. Saleh Wiradikarta. Pada tanggal 14 April 1976 gedung GKP Jemaat Sukabumi di Jln. Suryakencana No. 41 diresmikan dan kegiatan peribadahan pun pindah ke gedung yang baru itu. Pada tahun 1976–1977 pemerintah mendatangkan guru-guru inpres untuk mengisi kekurangan guru di Sukabumi. Sebagian besar dari guru-guru inpres itu (yang berasal dari Jawa Tengah, Maluku, dan Sulawesi Selatan) beragama Kristen dan ditempatkan di Sukabumi Selatan. Mereka kelak dilayani oleh GKP Jemaat Sukabumi. Pada tahun 1976 Pdt. Wiharja Jian STh ditugaskan oleh BP Sinode untuk melayani di GKP Jemaat Cideres. Dengan demikian, GKP Jemaat Sukabumi tidak memiliki pendeta jemaat. 13) Pdt. Tresna Purnama (1978–1980) Untuk mengisi kekosongan pelayanan tersebut, jemaat Sukabumi dibantu oleh Pdt. Tresna Purnama. Ia adalah pendeta GKP, anggota Litbang PGI, dengan tugas khusus sebagai Direktur Wisma Oikumene. Pada masa pelayanan Pdt. Tresna Purnama STh. pelayanan kepada guru-guru inpres mulai dilakukan. Ia bersama dengan Pater Ruys dan beberapa anggota Majelis Jemaat GKP Jemaat Sukabumi memberikan perhatian dengan cara mengumpulkan mereka setiap Minggu ke-3 untuk mendapat penguatan iman (persekutuan). Namun, karena tekanan dari masyarakat), banyak dari antara mereka yang kemudian tidak dapat mengikuti persekutuan. Bahkan, beberapa orang mengambil keputusan untuk meninggalkan Kristus. 14) Pdt. K. Suryanata (1980–1981) Pdt. K. Suryanata adalah pendeta GKP Jemaat Cikembar yang ditunjuk oleh BP Sinode GKP sebagai pendeta konsulen di GKP Jemaat Sukabumi. Untuk melayani jemaat Sukabumi, ia juga dibantu oleh beberapa pendeta, di antaranya adalah Pdt. Langi (GMIM) yang kebetulan pada saat itu berada di Sukabumi. Pada tanggal 15 Maret 1981, barulah jemaat Sukabumi mendapatkan calon pendeta jemaat, yaitu Vik. Engkih Gandakusumah, S.Th. 15) Pdt. Engkih Gandakusumah STh. (1981–1994) Vik. Engkih Gandakusumah STh. ditahbiskan menjadi pendeta pada tanggal 14 November 1981. Dalam masa pelayanannya, ia mengajak majelis jemaat untuk lebih meningkatkan administrasi gereja. Misalnya, buku “Liturgi Kebaktian Minggu” dikembangkan menjadi Liturgi IA, IB, IC, ID; Liturgi IIA, IIB ; dan lain-lain. Selain administrasi gereja, sarana dan prasarana gereja pun dikembangkan, seperti: a) Membangun gedung pembinaan Yosanah beserta perlengkapannya, b) Merenovasi rumah pastori, c) Mengadakan alat-alat musik (kolintang, angklung, alat-alat gamelan, dsb.), d) Mengadakan kendaraan/mobil gereja. Pada tanggal 31 Agustus 1994 Pdt. Engkih G. STh, terpilih menjadi Sekretarus Umum BP Sinode GKP. Setelah itu, GKP jemaat Sukabumi mengalami kekosongan tenaga pendeta jemaat, dan selama dua tahun pelayanan dilakukan oleh majelis jemaat. 16) Pdt. Deru Utama Noron STh. (1996–2005) Pada tanggal 1 November 1996 GKP Jemaat Sukabumi kembali mendapatkan tenaga pendeta jemaat, yaitu Pdt. Deru Utama Noron, S.Th., yang sebelumnya melayani GKP Jemaat Ciwidey. Pada masa pelayanannya, pelayanan jemaat semakin meningkat. Kebaktian Minggu dikembangkan menjadi dua kali, yaitu pukul 07.00 dan pukul 09.00 WIB, yang dilakukan setiap Minggu pertama setiap bulannya. Namun, jika ada sakramen, kebaktian hanya dilakukan satu kali, yaitu pukul 09.00 WIB. Di samping itu, sarana gereja pun ditingkatkan, yaitu dengan adanya pembelian kendaraan gereja yang baru dan pengadaan garasi di lingkungan gereja (tahun 2003). Pendeta yang dikenal suka bercanda dan memiliki wawasan dalam bidang Islamologi itu melayani GKP Jemaat Sukabumi selama kurang lebih sembilan tahun. Selama kurun waktu tersebut, jemaat Sukabumi semakin berkembang dengan bertambahnya orang-orang Kristen di Surade, yang merupakan bagian dari GKP Jemaat Sukabumi. Bahkan, tercatat ada 25 anggota sidi yang berada di Pos Pelayanan Ciwangi. Seiring dengan berkembangnya jemaat, majelis jemaat kemudian memandang perlu untuk menghadirkan lagi seorang calon pendeta jemaat agar pelayanan dapat berkesinambungan. Akhirnya, pada tanggal 18 April 2004 GKP Jemaat Sukabumi dilayani oleh Pdt. DeruU Noron STh, bersama dengan seorang vikaris. Pada tanggal 3 Juli 2005 masa pelayanan Pdt. Deru U. Noron STh, M.Min di GKP Jemaat Sukabumi berakhir. Untuk menjaga kesinambungan pelayanan di GKP Jemaat Sukabumi, MPS kemudian menugaskan Pdt. Robby E. Rumbayan SmTh sebagai pendeta konsulen. Pdt. Robby E. Rumbayan SmTh, adalah pendeta jemaat di GKP Jemaat Pacet. |
|
||||||
![]() | |||||||