Mailing List GKP

Tentang GKP
Lingkung GKP
Klasis Purwakarta
Klasis Bogor
Klasis Priangan
Klasis Jakarta
Klasis Cirebon
Lembaga
Lain-lain

GKP Palalangon

Alamat: Kotak Pos 27
Kampung Palalangon, Desa Kec. Ciranjang-Cianjur
Telepon: Kantor: 0263-322913
Pastori: 0263-322912

Gembala yang melayani :

1902 – 1934 : Dalam asuhan NZV

1934 – 1930 : G.I. Yosia Kasan

1930 – 1940 : Pdt. Yusuf Markasan

1940 – 1943 : Pdt. Yakub Salim

1943 – 1948 : Pdt. Markus Elia

1946 – 1963 : Pdt. Danie Empie

1963 – 1969 : Pdt. Remi Musa

1970 – 1975 : Pdt. Danie Empie

1984 – 1989 : Pdt. Sutarno, S.Th.

1990 – 1996 : Pdt. Tonny G. Tanos, S.Th.

1998 – sekarang : Pdt. Alex Fernando Banua, S.Th.

Palalangon merupakan sebuah kampung yang memilki ciri dan keunikan tersendiri di tatar tanah Pasundan, yaitu sebagai sebuah perkampungan Kristen hasil dari buah pekerjaan lembaga pekabaran Injil Hindia Belanda pada awal abad XIX (sekitar tahun 1901), yaitu Nederlandsche Zendings Vereeniging (NZV)

Pelayanan lembaga itu di wilayah Cianjur berawal dari sebuah keprihatinan akan kondisi dan keberadaan komunitas Kristen yang berasal dari orang-orang pribumi (suku Sunda), baik yang berada di wilayah Batavia (Jakarta) maupun daerah-daerah di sekitar Batavia, seperti Depok, Jatinegara, Kampung Sawah, Gunung Putri, Cikembar, Cigelam, dlsb. Pada saat itu komunitas Kristen Sunda itu mengalami “diaspora” (perserakan/keterceraiberaian) akibat intimidasi, penganiayaan, bahkan pembunuhan.

Komunitas yang telah “menghilang” tersebut kemudian diupayakan untuk dapat dihimpunkan kembali dan disatukan di bawah naungan pelayanan lembaga NZV. Salah seorang zendeling NZV yang ditugaskan untuk menghimpunkan itu adalah Zendeling B.M. Alkema. Ia berupaya untuk memukimkan kembali dengan cara mencari lahan yang dianggap cocok tempat bermukim dan sekaligus untuk lahan pertanian.

Upaya pencarian lokasi itu dimulai di wilayah keresidenan Cianjur. Alkema kemudian dibantu dan diantar oleh salah seorang pembantu Bupati Cianjur, seorang wedana bernama Sabri, dan disertai oleh tujuh orang yang telah dihimpunkan kembali, yaitu Miad Aliambar, Jena Aliambar, Hasan Aliambar, Akim Muhiam, Naan Muhiam, Yusuf Sairin, dan Elipas Kaiin.

Upaya pencarian lokasi itu memakan waktu yang cukup lama dan melelahkan, seperti menyusuri aliran Sungai Cisokan dan aliran Sungai Citarum. Ketika rombongan itu terperosok di sebuah tebing di pinggir aliran Sungai Citarum (tepatnya di daerah Leuwi Kuya), mereka kemudian menaiki tebing tersebut. Ternyata di sana ada sebuah hutan belantara yang tanahnya agak datar. Mereka pun beristirahat dan melihat-lihat daerah tersebut. Setelah dirasakan bahwa tempat tersebut dianggap cocok untuk dibuat lahan permukiman dan pertanian, akhirnya zendeling Alkema menancapkan tongkatnya di tanah itu dan berikrar, “Di tempat inilah saya tetapkan sebagai tempat permukiman bagi orang-orang Kristen (Sunda) …”.

Sejak saat itu, dimulailah pembukaan dan pembabatan hutan untuk permukiman dan pertanian. Setelah pembukaan hutan selesai, masing-masing keluarga kemudian diberikan lahan garapan seluas 5 bau (± 35.480 m2). Bahkan, pihak NZV pun membantu menyediakan modal bagi mereka, yaitu sebesar 1.200 Gulden.

Ketujuh orang itu mulai mengajak dan menjemput keluarga masing-masing sehingga pada saat itu terdapat sekitar 21 jiwa yang bermukim di perkampungan baru tersebut.

Setelah semuanya dirasakan sudah cukup mapan, dirasakan adanya suatu kebutuhan untuk tempat ibadah. Oleh sebab itu, pertengahan tahun 1902 dibangunlah sebuah tempat ibadah sementara (darurat) yang terbuat dari bahan “lalang” (eurih, bhs. Sunda).

Kebaktian Minggu perdana dilaksanakan (diperkirakan) pada tanggal 17 Agustus 1902, yang dilayani dan dipimpin langsung oleh zendeling Alkema. Pembacaan firman saat itu diambil dari kitab Habakuk 2:1–5. Konon kabarnya, setelah kebaktian, dicanangkanlah pemberian nama untuk kampung baru tersebut. Nama yang dipilih adalah “Palalangon”.

Sejak saat itu, nama perkampungan tersebut secara resmi dinamakan '‘Palalangon”, dan komunitas Kristen di sana dinamakan umat Kristen (jemaat) Palalangon (pada saat itu masih merupakan salah satu pos PI luar dari NZV).

Jemaat Tuhan di Palalangon kemudian menapaki hari-hari panjang, baik suka maupun duka. Bahkan, sampai saat ini usianya sudah mencapai 104 tahun (akhir tahun 2006). Suatu usia yang cukup tua bagi sebuah jemaat, dan itu semua tidaklah terlepas dari penyertaan dan pertolongan Tuhan.

Dilihat dari generasi, jemaat Palalangon sampai saat ini telah mencapai generasi yang ke-4. Namun, dari segi statistik, pertumbuhan jemaat Palalangon boleh dikatakan cenderung statis karena hanya mengandalkan pertumbuhan secara turun-temurun meskipun saat ini ada juga para pendatang (masih bersifat simpatisan) karena adanya Bendungan atau Waduk PLTA Cirata.

Jumlah anggota jemaat Palalangon saat ini sekitar 327 kepala keluarga (KK) atau sekitar 1.082 jiwa. Mereka terdiri atas 600 orang anggota dewasa, 200 orang usia pemuda-remaja, dan 282 anak-anak. Jemaatnya dibagi ke dalam lima wilayah pelayanan atau sektor.

Jemaat sebanyak itu hanya dilayani oleh seorang pendeta jemaat dengan dibantu oleh dua puluh orang majelis jemaat.