![]() |
GKP CiwideyAlamat: Jalan Ampera no.115, Ciwidey 40973 Gembala yang melayani : 1934–1974 : Dilayani GKP Jemaat Bandung. 1935–1942 : Ds. H.D Woortman, Pdt. Sumarta Kartawangsa 1942-1974 : Pdt. Josua Anirun 1974–1986 : Pdt. Jakin Elia . 1986-1996 : Pdt Deru Utama Noron STh. 1996- sekarang : Pdt. Agus Paulus Husen STh Benih injil mulai tumbuh di Ciwidey sejak kedatangan Tuan Gerard yang saat itu mendapat tugas dari tempatnya bekerja untuk menangani wabah penyakit yang terjadi di Ciwidey, sambil membawa berita Injil . Injil yang diberitakannya lambat laun membuat banyak penduduk setempat yang tertarik. Karena jumlah penduduk yang ingin mengetahui Injil semakin banyak, Tuan Gerard membutuhkan tenaga untuk membantu melayaninya. Oleh sebab itu, Tuan Gerard meminta bantuan Bapak Utin, seorang mantri kesehatan lulusan Rumah Sakit Immanuel yang pada waktu itu sedang bertugas di poliklinik Soreang. Jumlah orang Kristen di Ciwidey yang semakin hari terus bertambah membuat Bapak Utin pun merasa perlu untuk melaporkan keadaan itu kepada pihak zending di Bandung. Kabar itu tentu saja mendapat sambutan yang baik dari pihak zending. Oleh sebab itu, zending kemudian mengutus dua orang, yaitu Bapak Josua Anirun dan Bapak S. Kartawangsa untuk membina calon anggota jemaat Ciwidey. Pekerjaan mereka membuahkan hasil dengan dilakukannya baptisan pertama bagi salah seorang penduduk Ciwidey, yaitu Bapak Wiranta di GKP Jemaat Bandung, oleh Ds.. H.D. Woortman. Pada tahun 1935 baptisan kembali dilakukan bagi beberapa penduduk Ciwidey. Mereka yang dibaptis, di antaranya adalah Bapak Sudiadikarta, Bapak Murga, Ibu Cicih Ala, Ibu Icih karta, Bapak Eye Uyet, Ibu Amot, dan Bapak Ila. Pelaksanaan baptisan itu sendiri dilakukan di Ciwidey karena pada saat itu jemaat di sana sudah memiliki bangunan gereja sederhana berukuran 6 x 8 meter yang terdapat di Kampung Pasir Tilil. Pada tahun 1949, ketika terjadi pertempuran di Kota Bandung, banyak orang Kristen yang mengungsi ke Ciwidey dan menjadi anggota jemaat. Namun, sampai tahun 1950-an, ketika keadaan sudah aman, jumlah anggota jemaat kembali berkurang karena mereka banyak yang kembali ke Bandung. Menginjak tahun 1960-an jumlah anggota jemaat kembali bertambah, khususnya setelah peristiwa penumpasan PKI (tahun 1965–1967). Pada waktu itu orang-orang Tionghoa yang tinggal di Ciwidey banyak yang menjadi Kristen ketika ada anjuran untuk memilih salah satu agama. Seiring dengan jumlah anggota jemaat yang semakin bertambah, tempat ibadah yang ada di Pasir Tilil pun dirasakan sudah kurang memadai lagi. Oleh sebab itu, atas kesepakatan jemaat, direncanakanlah untuk memindahkan tempat ibadah ke lokasi yang baru. Lokasi untuk mendirikan bangunan baru itu sendiri sudah didapatkan, yang merupakan hibah dari salah seorang jemaat bernama Bapak Giong. Namun, karena beberapa kesulitan perizinan, akhirnya pemindahan itu tidak jadi dilakukan dan tanah yang dihibahkan tersebut akhirnya dibatalkan. Hal itu mengakibatkan jemaat Ciwidey tidak memiliki gedung gereja untuk beribadah. Selama belum ada gereja itulah, jemaat Ciwidey melakukan kebaktiannya di rumah-rumah anggota jemaat. Pada tahun 1970-an, atas bantuan Bapak Pdt. Yakin Elia, jemaat Ciwidey akhirnya dapat membeli sebidang tanah. Untuk itu, dibentuklah panitia pembangunan, yang diketuai oleh Bapak Lili Muliasetia. Dengan demikian, dimulailah pembangunan gedung gereja. Pembangunan gereja itu akhirnya dapat diselesaikan pada tahun 1974. Pada tahun 1995 gedung gereja itu direhab kembali dan ditambah dengan sedikit bangunan yang digunakan sebagai tempat rapat majelis dan ruang tamu. Dalam kerjasama dengan Yayasan BPPK, pada tahun 2007, Pastori telah dipindah ke luar halaman gedung gereja, di lahan bekas Pastori akan dibangun ruang kelas untuk Taman Kanak-kanak , Ruang Serba Guna, Kamar Koster dan Kantor Sekretariat Gereja. Selain rencana pembangunan tersebut, ruang tempat ibadah dalam gedung gereja telah direnovasi menjadi lebih luas. |
|
||||||
![]() | |||||||