![]() |
GKP KalaksananAlamat: Kampung Kalaksanan, Desa Cikawung Ading, Cipatujah-Tasikmalaya Gembala yang melayani : 1939 -1942 : A. van Emmrik 1942 – 1959 : Pendeta GKJ : - Ds. B. Probowinoto. - G.I. Siswopamito 1952- 1959 : Pendeta GKP Jemaat Tasikmalaya. 1959 : Bergabung menjadi bagian GKP. 1959 – 1990 : Pendeta GKP Jemaat Tasikmalaya Pdt Remi Musa, Pdt Basuki Mihardja 1992 - 1997 : Pdt. Yanto Supriyanto Jian STh. 1997 - 1999 : Konsulen ( Pdt. Megiana H. STh.) 1999 - 2006 : Konsulen ( Pdt Aam R. Sairoen STh.) 2006 – 2007 : Pdt. Benny B. Atje STh.( Petugas Klasis) 2008 - sekarang : Pdt. Bonavarte Siburian S.Si Awal berdirinya GKP Jemaat Kalaksanan berkaitan erat dengan kehadiran beberapa keluarga dari Gereja Kristen Jawa (GKJ) di Salatiga yang dibawa oleh orang Belanda, Tuan A. van Emmrik, pada tahun 1939. Maksud dibawanya mereka adalah untuk dipekerjakan sebagai pekerja perkebunan karet milik pemerintah kolonial Belanda. Para pekerja itu kemudian mendapat tanah garapan sekaligus mendapatkan pembinaan iman dari para zendeling dan para guru Injil dari GKJ. Namun, awalnya persekutuan itu belum disebut gereja. Ketika terjadi pergantian penguasa di Indonesia, dari Belanda ke Jepang, orang-orang Belanda yang membina iman orang-orang Kristen di Kalaksanan dikembalikan ke negaranya. Oleh sebab itu, pelayanan orang-orang Kristen di Kalaksanan diserahkan kepada GKJ, di bawah pelayanan Ds. B. Probowinoto. Namun, karena kesibukannya, pelayanan itu diserahkan kepada adiknya, yaitu guru Injil Siswopaminto. Dalam rangka pembinaan iman sehari-hari, pelayanan di Kalaksanan kemudian dilayani oleh Bapak Kamsino, salah seorang warga Kristen Kalaksanan. Hal itu disebabkan sulitnya medan yang harus ditempuh untuk melakukan pelayanan di Kalaksanan yang letaknya sangat di pelosok. Pelayanan tersebut berlangsung sampai tahun 1949. Pada tahun 1950 di Jawa Barat terjadi pergolakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di bawah pimpinan S.M. Kartosuwiryo. Pemberontakan itu menyebabkan banyak orang Kristen di Jawa Barat mengalami gangguan, termasuk kelangsungan persekutuan orang Kristen di Kalaksanan karena kebaktian Minggu tidak dapat berjalan. Pada tahun 1962 DI/TII Kartosuwiryo dapat ditumpas sehingga kondisi keamanan di wilayah Jawa Barat, termasuk Kalaksanan, berangsur-angsur membaik. Dengan demikian, kehidupan persekutuan jemaat pun berangsur-angsur pulih. Seiring dengan pulihnya keamanan, Wedana Karang Nunggal, Kusuma Sumantri, kemudian melakukan pendataan di wilayahnya (Kalaksanan adalah salah satu bagian dari wilayahnya). Dalam pendataan tersebut diketahuilah bahwa di Kalaskanan terdapat tujuh keluarga Kristen, yaitu Kel. Kamsino, Kel. Lipur Suparto, Kel. Saribun, Kel. Rusmin, Kel. Markus, Kel. Andreas, dan Kel. Ibu Martah Berdasarkan saran dari Wedana, orang-orang Kristen itu kemudian dianjurkan untuk menghubungi gereja terdekat supaya mereka mendapat pembinaan rohani. Pada awalnya mereka menghubungi GKJ. Namun, mengingat lokasi yang sangat sulit, pelayanan tidak dapat dilakukan. Selanjutnya, mereka menghubungi GKP Jemaat Tasikmalaya. Hal itu dikarenakan sebelumnya telah terjalin hubungan kerjasama yang baik antara jemaat Kalaksanan dan GKP Jemaat Tasikmalaya walaupun mereka masih berada dalam penanganan GKJ. Akhirnya, pelayanan yang dilakukan di Kalaksanan dilakukan oleh GKP Jemaat Tasikmalaya, yaitu sejak tahun 1952. Pada tahun 1959 Gereja Kalaksanan kemudian tercatat sebagai anggota GKP Dalam perkembangan selanjutnya, GKP Jemaat Kalaksanan mulai bertumbuh. Pada tahun 1990 jumlah anggota jemaat yang tercatat sebanyak lima puluh kepala keluarga. Pada tahun 1992 Pdt. Yanto Suprianto Jian, S.Th. ditahbiskan sebagai pendeta di GKP Jemaat Kalaksanan. Beliau melayani sampai dengan tahun 1997, dan selanjutnya melayani di GKP Jemaat Cimahi. Menjelang akhir masa pelayanannya, yaitu pada tanggal 26 Desember 1996, terjadi peristiwa pembakaran dan perusakan terhadap gedung gereja GKP Jemaat Kalaksanan. Peristiwa itu terjadi hampir di seluruh gereja-gereja di Kabupaten Tasikmalaya. Namun, aksi pembakaran dan perusakan itu tidak menghentikan kelangsungan pelayanan di GKP Jemaat Kalaksanan. Sejak perpindahan Pdt. Yanto Suprianto Jian, S.Th. ke GKP Jemaat Cimahi, praktis jemaat tidak memunyai pelayan khusus penuh waktu. Dalam keadaan seperti itu, pada tanggal 17 September 2001, terjadi lagi pembakaran dan perusakan untuk kedua kalinya. Bahkan, pembakaran dan perusakan tidak hanya terjadi pada gedung gereja, tetapi juga atas 21 rumah jemaat. Namun, setelah banyak orang dan gereja yang bersimpati, kehidupan jemaat di Kalaksanan kembali berangsur pulih, walaupun menyisakan rasa sakit dan trauma yang mendalam bagi warga jemaat. Mengingat letaknya yang jauh dan di pelosok, penanganan dan pembinaan jemaat mengalami kesulitan. Untuk itu, pada tahun 2007 Majelis Pekerja Sinode GKP menunjuk Pdt. Beny B. Ace, S.Th., pendeta di dalam pelayanan khusus di Klasis Priangan, untuk membantu pembinaan iman dan mempersiapkan tenaga pendeta penuh waktu di GKP Jemaat Kalaksanan. Melalui proses yang sangat panjang, akhirnya Vikaris R. Bonavarte, S.Si. dipanggil untuk dipersiapkan ke dalam pelayanan jabatan kependetaan. Dengan demikian, sejak saat itu sudah ada seorang vikaris yang membantu di dalam pelayanan jemaat Kalaksanan. |
|
||||||
![]() | |||||||