![]() |
GKP SumedangAlamat: Jalan P. Geusan Ulun no.106 Sumedang 45311 Gembala yang melayani : 1881 – 1934 : Para Zendeling NZV 1934 – 1947 : Konsulen (Pdt. M. Sarean, Pdt. J. Anirun). 1947 – 1968 : Pdt. Sumarta Kartawangsa 1968 – 1975 : Pdt. Jojon Sudjani 1975 – 1986 : Pdt. Basoeki Natamihardja 1986 – 2000 : Pdt. Ruswanda Tjenteng, S.Th. 2000 – 2005 : Pdt. Hendrato, S.Si. 2005 – 2007 : Konsulen (Pdt. J. Mentang, S.Th.). 2007 - sekarang : Pdt. Heryanto Pakpahan S.Si. Pada tanggal 2 Juni 1872 Zendeling S.A. Schilstra dari NZV datang dan menetap di Sumedang. Ia kemudian memulai pekerjaannya dengan membuka sekolah umum di rumah tempat tinggalnya. Sekitar tahun 1877, Bpk. Djimun, murid Mr. Anthing beserta keluarga, datang untuk membantu pelayanannya di Sumedang. Setahun kemudian, tepatnya pada tanggal 3 Februari 1878, dilakukan baptisan pertama atas keluarga Eng Hiang beserta istri dan anaknya. Pelayanan di Sumedang pun terus berkembang. Sampai dengan tahun 1884 tercatat 49 anggota jemaat yang ikut beribadah. Pada tanggal 1 Mei 1881, Zendeling Schilstra digantikan oleh Zendeling A. de Haan. Ia melayani sampai dengan tahun 1890, kemudian pindah ke Cideres. Pada tahun yang sama bangunan gereja di Sumedang dan jemaatnya dipindahkan ke sebelah utara Kota Sumedang, ke daerah Cibolang, karena anggota jemaat saat itu memerlukan tanah garapan, sampai dengan tahun 1893. Setelah itu, sebagian jemaat pindah lagi ke Cideres di tanah milik Zendeling J. Verhoeven dan ke tempat-tempat lainnya. Dari tahun 1883–1935 di Sumedang, beberapa orang telah dibaptis menjadi anggota jemaat. Di antara yang dibaptis itu adalah keluarga Askan Winata. Kebaktiannya sendiri dilaksanakan bergantian di antara anggota jemaat yang baru masuk itu. Mereka dilayani oleh Pdt. Josua Anirun dan Pdt. Madi Sarean dari Bandung. Pada tahun 1935 didirikan balai pengobatan “Zending Hospital” atas inisiatif beberapa pegawai Zending Hospital dan beberapa pelayan firman. Pada tahun 1939 ibadah di Sumedang digiatkan kembali dengan menggunakan tempat di lingkungan Kantor Residen. Ibadah di tempat itu hanya berlangsung selama satu tahun. Setelah masa pendudukan Jepang berakhir, dimulai dengan tujuh keluarga Kristen di Sumedang, persekutuan jemaat pun dibangun kembali. Pada saat itu jemaat di pimpin oleh Bpk. Sumarta Kartawangsa. Beliau kemudian ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 1947. Pendeta - pendeta yang pernah ditahbiskan di Sumedang adalah Pdt. Jojon Sudjani (1868), Pdt. Basoeki Natamihardja (1975), dan Pdt. Ruswanda Tjenteng (1986).dan Pendeta Hendrato Ssi., sekarang tengah dipersiapkan Vikaris Heryanto Pakpahan Ssi.di GKP jemaat Sumedang. |
|
||||||
![]() | |||||||