![]() |
|
Pendeta Jemaat : Pdt. Titin Meryati Gultom, SSi Data Jemaat Data jemaat yang ada dalam data base jemaat saat ini adalah sebagai berikut :
Ruang Ibadah seperti nampak dalam foto diatas saat ini dapat menampung jemaat ± 250 orang. Untuk mendukung pelayanan ada Ruang pembinaan, Ruang Sekertariat dan Pastori Pendeta. Jemaat dibagi dalam 7 Kelompok dimana kelompok I s/d VI adalah kelompok yang berada dalam radius 5 km dari gedung gereja sedangkan kelompok VII adalah kelompok tersebar yang mencakup 274 jiwa. Pelayanan Kebaktian Minggu dilakukan 3 kali kebaktian yaitu : Komisi yang ada dalam jemaat yaitu Komisi Pelayanan Anak (KPA) Komisi Pemuda, Komisi Wanita, Komisi Pria, Komisi Lansia, Komisi Liturgi dan Musik Gereja, Komisi Diakonia. Jemaat GKP Ebenhaezer Cawang saat dilayani oleh 1 orang Pdt Jemaat yaitu Bpk Pdt Ruswanda T. S.Th, Potensi Pdt jemaat ada 3 yaitu (Bpk dan Ibu Pdt Subrata ) dan Pdt Weinata Sairin M.Th. Majelis Jemaat saat ini berjumlah 30 orang Pos Kebaktian Cimanggis Untuk Melayani jemaat yang berdomisili di Sekitar Cimanggis maka Jemaat GKP Cawang mempunyai satu Pos Kebaktian di Cimanggis (Lihat Profil Pos Kebaktian Cimanggis) SEJARAH GKP EBENHAEZER CAWANG (Diambil dari Booklet Sejarah Ringkas Gereja Kristen Pasundan Jemaat Cawang yang disusun oleh Majelis Jemaat Periode 1992 - 1996) DALAM PENGUNGSIAN Pada masa awal Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, di seluruh Indonesia terjadi pergolakan politik. Bangsa Indonesia bangkit berjuang mempertahankan kemerdekaan, mengusir penjajah yang ingin kembali menguasai bumi Indonesia. Pada saat yang sama, ada saja orang yang tidak bertanggung jawab mengambil kesempatan dalam situasi pancaroba yang kritis untuk maksud-maksud tidak baik. Di sekitar Jakarta muncul gerombolan liar yang menjarah dan merampok harta benda milik rakyat, bahkan juga menganiaya rakyat pedesaan. Orang-orang Kristen yang tinggal di pedesaan di sekitar Jakarta, antara lain di Cigelam, Cakung, Kampung Sawah, Gunung Putri dan lainnya pun tidak luput dari sasaran mereka. Karena tidak tahan menghadapi gangguan-gangguan yang berlangsung lama dan bertendensi menekan orang-orang Kristen itu, maka sebagian besar orang-orang Kristen di desa-desa tersebut terpaksa mengungsi. Mereka berpencar ke berbagai tempat, khususnya di wilayah Jawa bagian Barat, termasuk ke Jakarta. Mereka yang mengungsi ke Jakarta, sebagian ditampung di gedung Jalan Kramat No. 65 dan No. 49, dan sebagian lagi menumpang di rumah keluarga atau famili mereka. Memasuki tahun 1946, pergolakan politik berlangsung terus demi mempertahankan kemerdekaan R.I., mengambil alih kekuasaan dari pihak Jepang dan menghadapi masuknya tentara Sekutu yang ditumpangi oleh pasukan NICA Belanda. Dalam keadaan seperti itu dapat dipahami bahwa keadaan sosial ekonomi rakyat Indonesia yang selama penjajahan Jepang sudah sangat sulit menjadi bertambah kalut. Di Jakarta terlihat semakin banyak berkeliaran gelandangan dan pengemis yang mencerminkan situasi sulit di daerah-daerah asal mereka. Tersentuh oleh pemandangan di Jakarta yang dipenuhi warna kumal dan miskin, seorang dokter Indonesia, dr. J.B, Sitanala, tergerak untuk melakukan sesuatu yang dapat menolong mereka yang menderita kemiskinan dan kepahitan hidup itu. Beliau memprakarsai usaha penyediaan tempat penampungan para gelandangan. Sebuah gedung bekas Gun-tjo (Jepang) yang telah ditinggalkan kosong, dipakai untuk maksud tersebut. Gedung dengan pekarangannya yang luas itu terletak di kawasan Cawang, yang pada waktu itu berada di pinggiran kota dan masih sepi penduduknya. Sebagai tenaga-tenaga pelaksana atau karyawan proyek tersebut, direkrut beberapa orang dari pengungsi yang ditampung di Jl. Kramat 65. Mereka yang direkrut pada tahap permulaan antara lain Pdt. J.P. Nunuhitu yang diangkat sebagai pimpinan, Bapak Azar Sanglir, Bapak Arta Rikin, Bapak Yustinus Niman, Bapak Malkus Baiin, Bapak Eran Noron, Bapak Elias Kaidan, dan Pdt. Madi Lampung. Semula, tempat penampungan itu diberi nama "Badelaars-colonie Rustenburg". Di kemudian hari, setelah diambil alih oleh Pemerintah R.I., namanya menjadi "Panti Sosial Taman Harapan" yang berada di bawah pengelolaan Departemen Sosial R.I. Pada masa permulaan proyek itu, untuk tempat penampungan para gelandangan miskin dibangun beberapa barak dari bambu dan atap rumbia atau alang-alang. Dibangun pula barak untuk perawatan orang sakit, barak untuk sekolah, dan barak untuk pegawai. Dengan semakin berkembangnya kegiatan lembaga sosial itu, para karyawan juga terus ditambah, umumnya dari kalangan orang Kristen, seperti Bapak Ruben Saian, Bapak Ripan Niman, sebagai tenaga kesehatan, Bapak Minan Empie, sebagai guru, Bapak Saarin Majan sebagai guru, Bapak Karta Lampung yang kemudian menjadi kepala perawatan orang sakit, Bapak Wasih Dani sebagai tenaga tata usaha Bapak Armon Daud sebagai guru, dan lainnya. TERBENTUKNYA PERSEKUTUAN Sebagai orang-orang Kristen yang taat, dalam menghadapi tantangan dan pengalaman hidup yang berat dan penuh pergumulan, para pengungsi yang menjadi karyawan lembaga sosial di Cawang itu merindukan persekutuan dengan Tuhan melalui ibadah kebaktian sebagaimana biasa mereka lakukan sebelum pengungsian. Kerinduan tersebut telah mendorong mereka merencanakan kumpulan atau kebaktian pada hari Minggu. Dan, kemudian berlangsunglah kebaktian Minggu pertama mereka di tempat itu pada hari Minggu tanggal 3 Maret 1946. Kebaktian diadakan sore hari di ruang tata usaha gedung utama proyek/lembaga sosial tempat mereka bekerja. Pada kebaktian pertama itulah Pendeta Madi Lampung mencetuskan nama "EBENHAEZER" sebagai nama bagi persekutuan mereka. Ebenhaezer artinya : Sampai di sini Tuhan masih menyertai kita. Selanjutnya kegiatan kebaktian dilakukan dengan berpindah-pindah tempat/ruangan di komplek itu, karena ruang tata usaha tidak dapat dipakai terus-menerus sebagai tempat kebaktian. Ruang yang dipakai termasuk barak penampungan, barak sekolah, bahkan juga pernah memakai masjid yang ada di situ. Kebaktian-kebaktian dilayani secara bergilir oleh Pdt. Nunuhitu dan Pdt. Madi Lampung. Kebaktian Minggu yang diselenggarakan secara sederhana semakin lama ternyata semakin banyak pesertanya. Para pendatang baru maupun orang-orang Kristen yang bertempat tinggal di sekitar komplek lembaga sosial tersebut telah ikut mengambil bagian dalam kebaktian di komplek. Keluarga-keluarga yang tinggal di luar komplek antara lain Kel. Bapak Saleh Niman, Kel. Bapak Misrael Rikin, Kel. Bapak E. Modo, Kel. Bapak Yonas Pepe, dan lainnya. Dengan semakin banyaknya yang ikut bergabung, maka dipikirkanlah upaya untuk meningkatkan pelayanan kebaktian ke arah yang lebih sempurna, mantap dan teratur. Untuk itu perlu diangkat seorang gembala tetap bagi persekutuan yang telah mulai melembaga. MEMASUKI LINGKUP GKP Untuk memenuhi kebutuhan akan seorang gembala tetap, persekutuan orang Kristen di Cawang mula-mula meminta kesediaan Pdt. Madi Lampung untuk tugas penggembalaan. Tetapi beliau menyatakan tidak bersedia. Kemudian mereka menghubungi Gereja Kristen Pasundan Jemaat Rehoboth Jatinegara. GKP Rehoboth-Jatinegara memberi sambutan positif. Jemaat yang ketika itu dipimpin oleh Pdt. Maat Rikin lalu mengutus Guru Injil Efraim Rikin untuk melayani secara teratur kebaktian-kebaktian di komplek Taman Harapan. Hal ini berlangsung sejak tahun 1950. Dengan kehadiran Guru Injil Efraim Rikin, maka perkumpulan orang Kristen di Taman Harapan, diberi status sebagai Pos Kebaktian Jemaat GKP Rehoboth, yakni mulai tahun 1950. Dengan demikian, resmilah persekutuan tersebut terhisab ke dalam persekutuan di lingkungan GKP. Karena tempat kebaktian masih menggunakan barak-barak, maka sering mengalami gangguan yang datang dari kalangan penghuni barak maupun karena adanya kegiatan-kegiatan dinas yang berlangsung pada saat yang sama. Mulailah dipikirkan untuk mengusahakan tempat ibadah milik persekutuan/jemaat sendiri. Pada tahun 1951, atas permintaan pegawai sosial yang beragama Kristen di tempat itu dan dibantu oleh Bapak Pringgo yang ketika itu menjabat sebagai Pimpinan Panti Sosial Taman Harapan, berhasil diperoleh sebidang tanah (yang ada sekarang) dari Pemerintah (Departemen Sosial). Kemudian, masih dengan bantuan Bapak Pringgo, anggota Jemaat membangun tempat ibadah di atas tanah tersebut. Fisik bangunan masih berupa bangunan darurat, terbuat dari bambu dengan atap alang-alang. Dengan telah adanya tempat ibadah tetap dan juga gembala tetap, maka status Pos Kebaktian ini ditingkatkan menjadi Anak Jemaat dari GKP Rehoboth-Jatinegara. MENJADI JEMAAT DEWASA Jumlah anggota Jemaat di Anak Jemaat yang berlokasi di Cawang terus bertambah, sehingga pada tanggal 10 Oktober 1952 diresmikan menjadi Jemaat Dewasa yang mandiri dengan nama: GKP Ebenhaezer Cawang dilayani oleh Guru Injil Bapak Efraim Rikin dengan susunan Majelis Jemaat yang pertama antara lain sbb :
Sejak itu mulailah kegiatan gerejani di GKP Ebenhaezer Cawang sebagai sebuah Jemaat Dewasa dan mandiri. Peneguhan Sidi pertama di Jemaat ini dilakukan pada tanggal 5 April 1953. Suatu perkembangan penting lainnya ialah ditahbiskannya Bapak Efraim Rikin sebagai Pendeta di Jetnaat GKP Ebenhaezer Cawang, yakni pada tanggal 8 Nopember 1953. Beliau menjadi Pendeta Jemaat pertama bagi GKP Jemaat Cawang. Pada hari yang sama, yakni tanggal 8 Nopember 1953, diresmikan pula terbentuknya Komisi Wanita GKP Cawang yang pada waktu itu bernama Persatuan Kaum Ibu GKP di Cawang. dengan susunan pengurus intinya sebagai berikut :
TANTANGAN DAN HARAPAN Selanjutnya GKP Ebenhaezer Cawang berkembang dengan perlahan tetapi pasti, menghadapi berbagai tantangan dan pergumulan sebagaimana wajarnya suatu Jemaat yang tumbuh-berkembang memperkenalkan dan memberikan Injil bagi masyarakat di lingkungannya. Komisi-komisi kategorial maupun non-kategorial dalam keorganisasian Majelis dan pelayanan Jemaat semakin dikembangkan. Selain Komisi Wanita seperti yang sebutkan diatas, pengembangan itu mencakup Komisi Sekolah Minggu dan Kebaktian Anak-anal (SMKA), Komisi Pemuda, Komisi Remaja, Komisi Musik Gerejawi, Komisi Diakonia, Komisi Pendidikan dan sebagainya. Juga mendirikan sekolah yakni SD dan SMP sebagai sarana pelayanan bagi masyarakat dan warga Jemaat. Untuk memudahkan dan melancarkan kegiatan pelayanan, anggota Jemaat dikelompokkan dalam beberapa Kelompok lingkungan sesuai dengan wilayah tempat tinggal mereka. Kini warga Jemaat dibagi dalam 7 Kelompok, dan Kelompok VII merupakan pengelompokkan bagian warga Jemaat yang tempat tinggalnya tersebar di luar 6 Kelompok lainnya yang umumnya berada dalam radius sekitar 5 Km dari gedung Gereja. Kelompok-kelompok tersebut, kecuali Kelompok VIII, mempunyai pengurus Kelompok masing-masing yang dipilih sendiri oleh warga Kelompok bersangkutan. Pendeta Jemaat Efraim Rikin (1953-1964) kemudian diganti oleh Pdt. Emil Empie STh. (1964-1866). Setelah beberapa lama terjadi kekosongan, Pdt. Muhali Sairoen diangkat menjadi Pendeta Jemaat, yang kemudian setelah periode masa jabatan (1971-1987) diganti oleh Pdt. D.D. Supriadi STh. (1988-1998) Pdt. Ruswanda T. STh. (1998-sampai saat ini) Gedung Gereja yang tadinya sangat darurat secara bertahap mengalami pembaharuan atau renovasi yang kadang-kadang bersifat perombakan total. Bangunan Gereja yang ada sekarang sudah merupakan bentuk dan ujudnya yang ke-4. Dan Majelis Jemaat sejak periode tahun 1988 sudah memulai langkah-langkah untuk melakukan renovasi yang cukup besar sesuai dengan perkembangan kebutuhan. Pembangunan-pembangunan fisik bangunan Gereja dan kelengkapannya itu tidak terlepas dari semangat partisipasi seluruh warga Jemaat. Tidak mungkin menyebutkan semua sumbangan-sumbangan material dari vvarga Jemaat maupun para simpatisan karena cukup banyak. Tetapi dengan tidak bermaksud mengecilkan peran serta mereka semua, di sini kiranya cukup layak untuk menyebutkan beberapa orang saja. Antara lain Bapak Pringgo dalam usaha penyediaan lahan dan bahan untuk bangunan Gereja yang pertama, Bapak Pdt. Efraim Rikin untuk penyediaan bahan bangunan pada pembangunan II, Bapak Mulyono dalam pelaksanaan pembangunan III, Bapak Manuputty dalam pelaksanaan pembangunan IV, dan Keluarga Bapak William Suryajaya dalam renovasi bangunan dan pekarangan dalam tahun-tahun terakhir. Tidak pula dapat dilupakan banyaknya tokoh-tokoh fungsionaris Gereja dalam kedudukan sebagai anggota Majelis maupun pengurus Komisi-komisi atau Kelompok yang bergiat dalam pembangunan Gereja sebagai tubuh Kristus di Jemaat Cawang. Sulit untuk memilih beberapa nama untuk disebutkan sebagai contoh tanpa suatu kekeliruan telah mengesampingkan nama lainnya yang layak disebut. Pada waktu ini GKP Jemaat Cawang yang sudah mencakup sekitar 415 Kepala Keluarga dengan sekitar 1.500 anggota sidi dan baptis, bersama-sama dengan seluruh persekutuan GKP sedang melangkah ke depan menuju abad 21 yang merupakan era globalisasi dan era komunikasi-informasi dengan segala tantangan dan harapan yang terkandung di dalamnya. GKP Jemaat Cawang khususnya sebagai Jemaat di perkotaan menghadapi tantangan dan harapan-harapan sendiri yang khas bersama sesama Jemaat perkotaan lainnya. Namun demikian, karena pemilik yang mendirikan dan yang menjadi Kepala Gereja adalah Yesus Kristus, kita hanya berserah kepadaNya untuk memperoleh tuntunan dan arahan. Dan bagiNyalah segala kuasa dan kemuliaan. Jakarta Medio Juni 2005 MJ Bidang Litbang PROFIL POS KEBAKTIAN GKP CAWANG DI CIMANGGIS SEJARAH SINGKAT Pada tahun 1971, GKP Jemaat Cawang merintis pekabaran Injil dengan melayani beberapa keluarga diwilayah Cibubur, tepatnya dari lampu merah sampai dekat kali, disana terletak sebuah pabrik minyak cengkeh, ditempat itulah pelayanan dilakukan dengan dilaksanakanya kebaktian setiap hari minggu. Pada saat itu tinggal dipabrik itu satu keluarga yang berasal dari Ambon yang bekerja dipabrik itu Jumlah seluruh keluarga yang dilayani ada 10 keluarga diantaranya keluarga Bapak Hermanus dan Bapak Subandi, namun usaha ini tidak dapat dilanjutkan, ahirnya sekitar tahun 1983 Jemaat Cawang mulai melirik kewilayah Gg.Nangka Cimanggis yaitu keluarga Bapak Hardja Hakim yang pada saat itu baru menerima Tuhan Yesus sampai bertambah menjadi 3 keluarga dan ditambah oleh saudara seiman lain yang bekerja dipabrik sekitar Pos Pelayanan, namun perkembanganya makin hari tidak menampakan kearah akan berkembang atau lebih tepat disebut dengan berjalan ditempat sampai tahun 1997 (+/- 26 tahun) Pada kesempatan Sidang Klasis GKP wilayah Jakarta ke XIII diTanjung Barat salah satu hasil keputusanya adalah Klasis diharapkan berperan untuk turut mendorong Pos-Pos Kebaktian GKP khususnya yang berada dilingkungan perumahan- perumahan. Berangkat dari keputusan tersebut Jemaat Cawang melalui Majelis Jernaatnya mulai melakukan kajian serta mencoba mengambil langkah-langkah yang dianggap perlu dilakukan terhadap keberadaan Pos Pelayanannya di Cimanggis dengan menugaskan anggota Majelis Jemaat yang berdomisili disekitar Depok-Cimanggis yaitu Bapak Ir.Yosua Laksana Tobing dan Bapak Paulus Rikin SPAK yang secara kebetulan juga sebagai fungsionaris Klasis GKP Wilayah Jakarta 1998-2000 menjadi motivator di Pos Pelayanan, sebagai langkah awal Pada tanggal 15 Agustus 1998 pilihan untuk memindahkan Pos Pelayanan dari Gg. Nangka ke Jl.Raya Bogor km 33.9 yaitu dikediaman keluarga Bapak Tony S.Hermawan adalah pilihan yang dianggap terbaik agar warga Jemaat yang tinggal sekitar Cimanggis Depok juga mau berjemaat di Pos Pelayanan ,dan ternyata warga jemaatpun menyambutnya sehingga nampak perkembangannya dari hari kehari,. Pada tanggal 22 Juli 2001 Oleh Jemaat Cawang Pos Pelayanan diresmikan menjadi Pos Kebaktian dengan Bapak Kosasih Empi sebagai ketuanya dan pada saat itu jumlah warga Jemaat di Pos kebaktian Cimanggis ada sebanyak 30 keluarga terdiri dari 26 orang anggota baptis dan 64 orang anggota sidi atau 43 pria dan 47 wanita yang pertambahanya sebagian berasal dari non Kristen./ baptis. Selama 2 tahun setelah pos kebaktian diresmikan tingkat kehadiran jemaat dalam ibadah pukul 09.30 pagi di Pos Cimanggis rata-rata 28 orang. Saat ini tingkat kehadiran jemaat pada ibadah pukul 09.30 pagi berkisar antara 7 s/d 15 orang. Dari Data Base Jemaat, anggota jemaat yang tinggal disekitar pos kebaktian cimanggis adalah sebagai berikut : Jumlah kepala keluarga adalah 27 KK terdiri dari 39 wanita 42 laki-laki yang dibaptis 23 orang dan yang sidi 50 orang. ASPEK LINGKUNGAN DI SEKITAR LOKASI POS KEBAKTIAN CIMANGGIS
STATUS TEMPAT IBADAH Status tempat ibadah saat ini menggunakan ruang tamu rumah keluarga Bapak Tony Hermawan dengan kapasitas +/- 30 orang Sampai dengan saat ini Pos Kebaktian Cimanggis mempunyai komitmen dengan Pemilik Tanah Bapak Tony Hermawan untuk memberikan sebagian tanahnya +/- 300 m untuk dibagun Pos Kebaktian Cimanggis PELAYANAN BERSAMA Untuk pengembangan Pos Kebaktian Cimanggis Jemaat GKP Cawang mengangkat Team Pegembangan Pos Kebaktian Cimanggis yaitu Bpk Harry Agung, Bpk Agus Purnama Bone, Bpk Irwan Lampung dan Ibu Mooryati untuk membantu majelis jemaat GKP Cawang untuk pengembangan Pos kebaktian Cimanggis Melihat pergumulan yang ada di Pos Kebaktian Cimanggis maka dengan semangat kebersamaan Klasis Wilayah Jakarta pelayanan di Pos Kebaktian Cimanggis saat ini digilir secara Bergantian oleh Jemaat GKP Yeruel Cibubur, GKP Kampung Tengah, GKP POUK Immanuel Cijantung, GKP Cawang, dan GKP Rehoboth Jatinegara
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||
![]() | |||||||||||||||||||||||||||||||