![]() |
GKP Tanjung Priok
DATA DAN SEJARAH GKP “GALILEA” TANJUNG PRIOKA. DATA JEMAAT * Berdiri Jemaat -Tanggal/ Bulan / Tahun : 5 Juli 2005 -Usia Jemaat : 0 Tahun * Jumlah KK : 41 KK (141 jiwa) * Jumlah Anggota Baptis : 49 jiwa * Jumlah Anggota Sidi : 92 jiwa B. PERIBADATANKebaktian Umum (Minggu) : Pkl.: 09.00 s/d 10.30 a. Kebaktian Rumah Tangga Hari : Kamis Pkl.: 19.00 s/d 20.30 b. Kebaktian SMKA Minggu, Pkl.: 07.00 s/d 09.00 d. Keb. Pemuda/Remaja Hari: Sabtu Pkl.: 19.00 s/d 20.30 e. Keb. Wanita Hari : Kamis Pkl.: 16.00 s/d 18.00 f. Keb. Lansia Hari : Rabu Pkl.: 10.00 s/d 12.00 C. SEJARAH (singkat) JEMAATGereja Kristen Pasundan Jemaat "Galilea" Tanjung Priok diresmikan tanggal 5 Juli 2005. Secara geografis terletak di Jalan Kebon Bawang No. 56 Tanjung Priok, Jakarta Utara. Lokasi gedung gereja tidak jauh dari jalan arteri, dan berada di samping dekat pusat perbelanjaan yang ramai. Dengan lokasi strategis seperti ini memudahkan setiap jemaat yang hendak menuju ke gereja tersebut. Persekutuan di tempat ini diawali dari suatu persekutuan yang diberi nama Bethabara dengan beberapa pendirinya yaitu, Bapak Butje J. Ririhena, Bapak Eddy LZ. Kusteli dan Pdt. Freddy Leunufna yang aktif di Gereja Protestan Tanjung (GPT). GPT awalnya sebagai gereja suku, karena sebagian besar jemaatnya terdiri dari persaudaraan orang-orang ketiga pendiri persekutuan tadi. Pada saat itu, persekutuan dipimpin oleh seorang guru Injil yang bernama Matheis Pelmelay. Pada saat berdirinya, persekutuan ini belum terdaftar di salah satu sinode dengan alasan yang sangat mendasar adalah masalah kepemimpinan jemaat, karena merekalah yang merasa mendirikan dan memimpin jemaat Dengan bergabungnya persekutuan ini disalah satu sinode, maka ketiga pendiri persekutuan tersebut mengundurkan diri karena adanya perbedaan pendapat. Akhirnya dibentuklah persekutuan baru dengan beberapa dukungan dari beberapa keluarga, di antaranya Kel. Bapak Simon Cornelis Jacom, Kel. Bapak Lodwick Lekatompessy, Kel. Bapak Sutono dan kel. Bapak Daud Silooy. Pada awal persekutuan ini dipimpin oleh Pdt. Freddy Leunufta dengan mulai mencari jemaat dan terdaflar 50 orang dewasa/sidi. Kebaktian pertama kaii dilaksanakan di rumah Bapak Butje Ririhena. Pada tanggal 29 Oktober 1972, dengan semakin pesatnya perkembangan jumlah jemaat, maka pengurus memandang perlu untuk pindah tempat agar dapat menampung jumlah jemaat lebih banyak. Dengan memperhatikan perkembangan yang ada, pimpinan jemaat yaitu Pdt. Freddy Leunufna dan Majelis sepakat segera bergabung dengan salah satu sinode. Ada 3 (tiga) pilihan sinode yang akan diputuskan untuk dipilih, yaitu: • GPIB (Gereja Protestan Indonesia bagian Barat) • GKP (Gereja Kristen Pasundan) • GKI (Gereja Kristen Indonesia) Saat itu pilihan jatuh pada Gereja Kristen Pasundan (GKP) dengan pertimbangan bahwa GKP belum ada di Tanjung Priok atau bagian Utara Jakarta. Selanjutnya majelis jemaat menghubungi Bapak Amos Letwory salah satu Majelis Jemaat GKP Kramat untuk kemudian mengadakan pendekatan dengan Majelis Jemaat GKP Kramat. Setelah melalui berbagai pertemuan akhirnya Gereja Protestan Indonesia jemaat Bethadara meleburkan diri menjadi bagian dari GKP Kramat pada tahun 1974 yang disebut Pos Kebaktian Tanjung Priok dengan jumlah anggota saat itu berjumlah 200 jiwa. Saat itu, pendeta jemaat Kramat adalah Pdt. Drajat Madjan. Pos Kebaktian Tanjung Priok saat itu masih berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, karena tidak mempunyai tempah ibadah sendiri. Pada waktu itu sempat menumpang di Gereja GMIST Nasaret (bagian Jemaat GMIST Mahanaim) selama 6 tahun dari tahun 1978 s/d tahun 1984, kemudian memakai rumah salah satu jemaat Bapak Yonathan Loginsi sebagai rumah ibadah. Sementara itu, jemaat sempat membeli tanah seluas 200 m2 di daerah Walang Gg. Mesjid namun tidak sempat terbangun karena warga setempat tidak menghendaki adanya rumah ibadah di daerah tersebut dengan segala upaya untuk menggagalkan pembangunannya. Pada akhirnya tahun 1984, Bapak Yonathan Loginsi mendapat informasi dari bapak Siahaan (salah seorang warga HKBP) bahwa ada gedung kosong milik HKBP yang selama tujuh tahun tidak dikondisikan sebagai rumah ibadah karena tidak mampu menampung kapasitas jemaatnya. Informasi tersebut ditindaklanjuti oleh Majelis Jemaat (Ibu NS. Kailola) menemui Majelis Jemaat HKBP untuk meminta ijin pemakaian gedung gereja untuk ibadah dan tanpa syarat HKBP mengabulkan permintaan tersebut. Maka tahun 1984 Pos Kebaktian Tanjung Priok secara resmi memakai eks HKBP tersebut dengan uang penggantian saat itu sebesar Rp. 7.500.000 (tujuh juta lima ratus ribu rupiah). Melihat peranan rumah ibadah sangatlah penting maka pada tanggal 27 Januari 1985 pukul 17.00, pihak HKBP telah menghibahkan gedung gereja tersebut kepada GKP Kramat Pos kebaktian Tanjung Priok, dan ditandatangani oleh kedua belah pihak antara GKP Pdt. Lumban Gaol, STh, Bapak Sihombing dan Ibu NS. Kailola dan dari pihak HKBP Pdt. Sihombing (alm) dan Bapak GH. Lumban Gaol. Dalam perjalanannya akan dilakukan renovasi gedung gereja oleh Panitia Pembangunan dan pengurusan surat-surat untuk sertifikat ternyata asli hibah tidak ada (hilang). Maka panitia yang kebetulan salah satu majelis jemaat melakukan pembaharuan surat hibah tersebut dengan mempertemukan kembali pihak HKBP dan GKP tanggal 5 Februari 1998 di gedung gereja Jalan Ford Barat 56 telah ditandatangani surat hibah sebagai pengganti surat hibah yang hilang oleh Pdt Krisna L. Suryadi, STh, Bapak Agus Noron, Bapak Sadewa Herman Setiabudi, SE.,MM dari pihak GKP dan dari pihak HKBP oleh Pdt. I.V.T Simatupang, ST, HP. Sihombing, ST, Drs, S.H. Pasaribu. Kemudian melalui surat keputusan Majelis jemaat Kramat Nomor 040/MJ-GKPK/V/1998 tanggal 25 Mei 1998 telah dibentuk Panitia Pembangunan. Pembangunan Gedung Gereja selesai dilaksanakan guna kepentingan ibadah dan sejalan dengan masa pelayanan Majelis Jemaat periode 2001-2005, maka pada tahun 2002 Majelis Jemaat GKP Kramat mengeluarkan Surat Keputusan Majelis Nomor 059/MJ-GKP-K/VIII/2002 pada tanggal 6 Agustus 2002 tentang pembentukan Panitia Pembangunan Gedung Gereja GKP Kramat Pos Kebaktian Tanjung Priok sebagai perwujudan Peremajaan susunan anggota panitia untuk melanjutkan pembangunan tahap berikutnya, yaitu pembangunan pastori dan finishing gedung yang sampai saat ini belum terlaksana. Adapun susunan Panitia Pembangunan. Dengan perkembangan penatalayanan yang ada di Tanjung Priok maka pada tanggal 25 Juli 2004 telah dilaksanakan perobahan status oleh GKP Kramat yang disaksikan oleh MPS dan BP. Klasis dari Pos Kebaktian menjadi Bakal Jemaat. Perubaban status ini merupakan suatu proses penatalayanan suatu jemaat yang pada akhirnya menjadi suatu jemaat yang mandiri. Guna mengantisipasi rencana pendewasaan jemaat, maka seluruh komponen yang ada di Bajem Tanjung Priok perlu dibekali suatu pemahaman dari mulai anggota jemaat, pengurus komisi dan Majelis Jemaat. BP. Klasis membuat pilot proyek dengan melajukan pembekalan dan pembinaan pada tanggal 4 Agustus sampai dengan 24 Oktober 2004 dcngan materi pembinaan: penatalayanan kepemimpinan gereja, makna dan hakekat tata Gereja bagi kehidupan berjemaat, dll. Dari pilot proyek yang dilakukan BP. Klasis dapat dirasakan manfaatnya oleh jemat di dalam rangka mempersiapkan diri menjadi jemaat yang mandiri. Pada masa persiapan untuk menjadi Jemaat utuh, maka proses administrasi, baik keuangan, penatalayanan di jemaat diserahkan sepenuhnya pengelolaanya oleh Majelis Jemaat Tanjung Priok. Hal ini diiakukan sebagai proses pembelajaran yang diberikan oleh jemaat induk yaitu GKP Kramat Susunan Majelis Jemaat saat ini: Pendeta jemaat : (Pendeta Konsulen) Ketua : Bapak Sadewa Herman Setiabudi, SE.,MM. Sekretaris : Ibu Yuliana Kailola Bendahara : Sdr. Agustinus Arnold Loginsi, SE. Anggota : Ibu Anni Muradji : Ibu Hetty Lopulalan : Ibu Verra Latuputy Bersama Majelis Jemaat, GKP "Galilea" Tanjung Priok, Sdr. Andre Massang, S Si turut mendukung pelayanan sebagai vikaris. Sumber: Buku Peresmian Pendewasaan GKPJemaat "Galilea" Tanjung Priok - 5 Juli 2005 |
|
||||||
![]() | |||||||