Mailing List GKP

Tentang GKP
Lingkung GKP
Klasis Purwakarta
Klasis Bogor
Klasis Priangan
Klasis Jakarta
Klasis Cirebon
Lembaga
Lain-lain

GKP Cideres

Alamat: Depan RSUD Cideres, Kadipaten-Majalengka
Telepon: 0233-661750

Gembala yang melayani :

1882 – 1934 : Para Zendeling NZV

1934 : Pdt. Yustus Salim

: Pdt. Sumarta Kartawangsa

: Pdt. Odeh Suwardi, S.Th.

1965 : G. I. Enos Djalimun

1965 - 1979 : Konsulen ( Pdt. Dominggoes Lessi)

1979 – 1981 : Pdt. Wihardja Djian, S.Th.

1984 – 1989 : Pdt. Benny B. Ace, S.Th.

1989 – 2000 : Pdt. Edi Setiadi Djalimun SmTh.

2000 – 2003 : Pdt. Robby E. Rumbayan SmTh.

2003 – sekarang : Pdt. Rasima T.E.F. Manalu, S.S.

Zendeling J. Verhouven (utusan NZV) tiba di Tanjung Priok pada tanggal 4 April 1876. Ia kemudian langsung menuju Indramayu dan tinggal bersama iparnya, yang bernama Zendeling L.J. Zegers.

Pada tanggal 29 Juni 1876, Zendeling Verhouven pindah ke Majalengka atas saran Zendeling Zegers, yaitu agar dapat mengabarkan Injil di daerah Majalengka.

Pada tahun 1878, Zendeling Verhouven mendapat bantuan tenaga-tenaga muda yang telah mendapat pendidikan penginjilan dari Mr. F.L. Anthing. Tenaga-tenaga muda itu adalah Soleiman Djalimoen dari Gunung Putri Bogor dan Yakobus Ariin dari Leuwidahu Tangerang.

Kehadiran penginjil-penginjil muda, yang adalah para penginjil pribumi atau orang Indonesia asli, turut mempercepat proses penginjilan di daerah Majalengka.

Pada saat itu hampir di seluruh Jawa Barat masyarakat menganggap bahwa agama Kristen adalah agama penjajah. Hal itu dapat dimengerti karena pada saat itu Tanah Air memang sedang dijajah oleh bangsa Belanda. Oleh sebab itu, sebelum Bapak Soleiman Djalimoen dan Bapak Yakobus Ariin terjun ke masyarakat, mereka lebih dahulu diberi pendidikan oleh ZendelingVerhouven dalam rangka memantapkan segala tugas-tugas yang akan dilaksanakan.

Pada tanggal 19 Maret 1882 di Majalengka, untuk pertama kalinya, Zendeling Verhouven membaptis lima orang penduduk. Dua orang di antaranya adalah pembantu rumah tangganya, yaitu Kawit dan Antiyem. Menurut sejarah, salah seorang dari kedua pembantu rumah tangga Zendeling Verhouven itu berasal dari Indramayu, yang dibawa pindah ke Majalengka.

Dalam usaha mengabarkan Injil di daerah Majalengka, Tuan Verhouven dan pembantu-pembantunya tidak secara langsung mengabarkan Injil, tetapi dengan jalan melihat dan memerhatikan keadaan masyarakat. Misalnya, ketika di Desa Karayunan, Munjul, dan Kutamanggu sedang berjangkit wabah penyakit malaria, mereka membantu dengan memberikan pertolongan kepada orang-orang yang menderita sakit.

Pada saat itulah Bapak Soleiman Djalimoen dan Bapak Yakobus Ariin untuk pertama kalinya bertemu dengan Bapak Sarniem sekeluarga di daerah Karayunan dan dengan Bapak Kadam sekeluarga di daerah Kutamanggu. Kedua keluarga tersebut sedang dalam keadaan sakit. Sambil memberikan pengobatan, Bapak Soleiman Djalimoen dan Bapak Yakobus Ariin mengabarkan Injil kepada mereka. Ketika sudah sembuh, mereka meyakini Kristus sebagai Juruselamatnya.

Selanjutnya, Bapak Sarniem sekeluarga dan Bapak Kadam sekeluarga setiap Minggu pagi rajin datang ke Majalengka untuk mengikuti kebaktian di rumah Tuan Verhouven, yang juga ikut menginjili mereka dengan setia.

Pada tanggal 1 September 1882, Zendeling Verhouven sekeluarga dan pembantu-pembantunya pindah ke Cideres dan tinggal di sebuah rumah hasil pembeliannya. Di tempat itu kemudian dilaksanakan kebaktian, yang diadakan pertama kali pada tanggal 3 September 1882.

Bapak Sarniem, istrinya, dan putra-putranya, yaitu Sabun, Sanikem, Kastar, Camong, serta seorang cucunya yang bernama Sukasmi ikut pindah ke Cideres. Begitu pula Bapak Kadam, istrinya, dan putra-putranya, yaitu Rahman, Rasdam (Sakeus), dan Eten (Yusuf) yang ikut pindah ke Cideres.

Dalam hal itu, segala jerih payah dan usaha pemberitaan Injil yang dilakukan Tuan Verhouven, Bapak Soleiman Djalimoen, dan Bapak Yakobus Ariin itu tidak sia-sia.

Pada hari Minggu, tanggal 1 Juli 1883, dilakukan pembaptisan terhadap tujuh orang di Cideres, yaitu Bapak Sarniem dan istri, Bapak Kadam dan istri, Bapak Sarma, Angsal, dan Sarmi. Sejak saat itu tumbuhlah benih-benih yang ditaburkan dan ditanam di Cideres.

Pada tanggal 11 Januari 1885 rumah kebaktian yang baru diresmikan, yaitu yang sekarang ada. Sejak itu, segala kegiatan kebaktian tidak lagi dilakukan di rumah Zendeling Verhouven, tetapi di rumah kebaktian atau gereja.

Pada waktu itu kehidupan orang Kristen di daerah Pasundan sangat berat. Mereka dikucilkan dari kehidupan masyarakat serta mendapat tekanan-tekanan berat. Untuk menolong keadaan mereka, Zendeling J. Verhouven kemudian mengajukan usul atau permohonan kepada Pemerintah Hindia Belanda di Batavia, yaitu agar diizinkan menggunakan tanah untuk dijadikan permukiman orang-orang Kristen.

Usul atau permohonan itu dipenuhi oleh Pemerintah Hindia Belanda. Akhirnya, umat Kristen di Cideres dikumpulkan di suatu daerah tertentu, yang telah diusahakan oleh Zendeling J. Verhouven.

Pada tahun 1900 secara resmi Zendeling J. Verhouven mendirikan Desa Kristen Cideres.

Pada tanggal 31 Juli 1992, Zendeling Verhouven meninggal dunia di tengah-tengah jemaatnya, dan dimakamkan di Cideres. Pekerjaannya kemudian dilanjutkan oleh Zendeling A.K. de Groot.

Pada tanggal 11 November 1923 Bapak Yakobus Ariin meninggal dunia di Cideres.

Pada tanggal 1 Juni 1925 (hari Pentakosta II) Bapak Soleiman Djalimoen juga meninggal dunia.