![]() |
GKP JuntikebonAlamat: Desa Juntikebon, Kec. Juntinyuat-Indramayu Gembala yang melayani : 1905 – 1934 : Para Zendeling NZV 1934 – 1940 : Pdt. Suramin Madjan 1940 – 1945 : G.I. Sipan Nursidjan. 1945 – 1946 : Zendeling C. Van de Weg 1946 – 1949 : Konsulen (Pdt. Kesa Yunus). 1949 – 1964 : G.I. Kardilah 1964 – 1975 : Pdt. Darajat Madjan. 1975 – 1989 : Pdt. Edi Setiadi DjalimunSmTh. 1989 – 1997 : Pdt. Drs. Agustria Empi 1997 – 1999 : Konsulen (Pdt. Edi Setiadi Djalimun) 1999 – 2006 : Pdt. Budi Triadi Kaidun, S.Th. 2006 – sekarang : Pdt. Kelana Noron, S.Th. Kehadiran GKP Jemaat Junti Kebon berkaitan erat dengan hadirnya Gereja “Kie Tok Kauw Hwee”, yang dilayani Zendeling van der Burg, yang kemudian digantikan Zendeling Hoekendijk pada tahun 1899 di Indramayu. Bermula dari persoalan bahasa pengantar kebaktian (Melayu-Mandarin dikalangan etnis Cina) yang kurang dipahami oleh suku Jawa Indramayu, akhirnya pada tahun 1905 didirikanlah pos kebaktian berbahasa Jawa Indramayu, yang dilayani Zendeling Hoekendijk, yaitu sebagai pos “Kie Tok Kauw Hwee” di Junti Kebon. Pada tahun 1910, Zendeling Hoekendijk meninggalkan Indramayu. Sebagai penggantinya adalah Zendeling A. Veemer, yang saat itu juga menjadi pengajar di sekolah berbahasa Belanda dan Melayu, serta mengurus balai pengobatan. Kerena Zendeling Veemer sangat repot dalam melakukan tugasnya, untuk pelayanan di pos Junti Kebon, ia dibantu oleh Guru Kesa Yunus dari Cirebon, sampai akhirnya Zendeling Veemer sendiri pindah dan melayani pos Junti Kebon. Sementara itu, pelayanan jemaat Gereja “Kie Tok Kauw Hwee” di Indramayu digantikan oleh Zendeling A. van As. Pada tanggal 19 Februari 1914 Zendeling Veemer digantikan oleh Zendeling . C. van de Weg. Pada tahun 1918 dibangunlah gedung sekolah rakyat, rumah jompo atau “Rumah Pekrok”, dan poliklinik. Kehidupan persekutuan jemaat semakin berkembang, sampai akhirnya GKP Jemaat Juntikebon mandiri pada tanggal 14 Nopember 1934. Pada bulan yang sama Pdt. Suramin Madjan ditahbiskan sebagai pendeta jemaat, yang melayani sampai tahun 1940. Setelah kemerdekaan Indonesia, Zendeling C. van de Weg kembali melayani Junti Kebon. Namun, karena Indonesia masih dalam keadaan kacau setelah peperangan, Zendeling C. van de Weg pada 7 November 1945 “diadili” massa dan akhirnya dibunuh. Hal itu menyebabkan warga jemaat tercerai-berai. Mereka banyak yang mengungsi ke Tamiyang, Haurgeulis, dan Jakarta. Sementara itu, mereka yang masih tinggal ditekan dan dipaksa mengingkari imannya serta tidak diperbolehkan mengadakan persekutuan di rumah dan di gereja. Oleh sebab itu, gedung gereja, sekolah, dan Rumah Sakit tidak dapat berjalan untuk sementara waktu. Pada tahun 1946 anggota jemaat yang tersisa kembali bersekutu mengadakan kebaktian di halaman gedung gereja karena bangunan gereja telah rusak parah. Kebaktian pada saat itu dilayani oleh Pdt. Kesa Yunus dari Indramayu, yaitu sampai dengan tahun 1949. Jemaat selanjutnya dilayani Bpk. Kardilah. Pada tahun 1950 gedung gereja berhasil diperbaiki, lalu diberi nama GKP “Kurma”. Pada saat ini GKP Jemaat Junti Kebon memiliki anggota jemaat sebanyak 49 KK, yang terdiri atas 79 orang anggota sidi, dengan jumlah keseluruhan ± 219 Jiwa. Mereka terdiri atas berbagai etnis, seperti Jawa (Indaramyu), keturunan Tionghoa, dan Batak. |
|
||||||
![]() | |||||||