Mailing List GKP

Tentang GKP
Lingkung GKP
Klasis Purwakarta
Klasis Bogor
Klasis Priangan
Klasis Jakarta
Klasis Cirebon
Lembaga
Lain-lain

GKP Tamiyang

Alamat: Kampung Rehobot, Desa Jayamulya Kec. Kroya Wetan-Indramayu
Alamat Surat: d.a GKP Haurgeulis Jalan Siliwangi no.37, Haurgeulis 45264

Gembala yang melayani :

1912 – 1934 : Para Zendeling NZV

1934 – 1951 : Pdt. Usman Sarim

1951 – 1961 : G.I. Kama

1961 – 1963 : Konsulen (Pdt. Kesa Yunus)

1962 – 1982 : ?

1982 – 2001 : Konsulen (Pdt. Kurniada Lampung, S.Th.)

2001 – 2005 : Pdt. Anggara M.T.S. Napitupulu, S.Th.

2005 – sekarang : Pdt. Anatona Zebua, S.Th.

Sekitar tahun 1912 Zendeling Vermeer (NZV) membuka hutan menjadi sebuah permukiman yang di beri nama “Rehoboth”. Pada saat itu penduduk yang bermukim di sana kebanyakan telah beragama Kristen, yang berasal dari daerah Junti Kebon. Adapun bangunan gereja, pada waktu itu banguan itu terbuat dari tiang bambu dan atap alang-alang.

Setelah Zendeling Vermeer (NZV), jemaat kemudian dipimpin oleh Zendeling van Doe, yang dikenal oleh jemaat dengan sebutan “Tuan Pendoe”. Ia memimpin sampai GKP Jemaat Tamiyang mandiri.

Pendeta Usman Sarim merupakan pendeta jemaat pertama di GKP Jemaat Tamiyang. Ia terbunuh pada tanggal 14 November 1951 oleh gerombolan pengacau DI/TII.

Pada tanggal 31 Agustus 1957 bangunan gereja dibakar sehingga anggota jemaat bercerai-berai dan mengungsi ke berbagai tempat yang lebih aman, antara lain ke Haurgeulis dan bermukim di kampung Babakan Jati, Desa Cipancuh.

Setelah keadaan mulai aman, sebagian dari jemaat itu kembali ke Tamiyang dan sebagian lagi menetap di Haurgeulis. Mereka yang tinggal di Haurgeulis kemudian membangun GKP Jemaat Haurgeulis. Sementara itu, mereka yang kembali ke Tamiyang pada Tahun 1966 membangun kembali bangunan gereja sederhana, yang penggunaannya diresmikan pada tanggal 7 Maret 1982. Gedung gereja itulah yang dipakai sebagai GKP Jemaat Tamiyang sampai sekarang.

GKP Jemaat Tamiyang memiliki anggota jemaat sebanyak 58 KK atau ± 203 jiwa, yang terdiri atas 107 anggota sidi dan 96 orang angota baptis. Mereka berasal dari suku Jawa, Indramayu, dan keturunan Tionghoa.