GEREJA KRISTEN PASUNDAN PERINGATI HARI REMAJA OIKOUMENIS SE-DUNIA: SIKAP GEREJA HARUS JADI ‘SAFE SPACE’, BUKAN ‘RUANG SIDANG’

BANDUNG — Memperingati Hari Remaja Oikoumenis Se-Dunia pada Minggu XV Sesudah Pentakosta, Gereja Kristen Pasundan (GKP) Jemaat Bandung dan GKP se Sinode menggelar Ibadah dengan penekanan kuat pada realita kehidupan mental dan spiritual generasi muda hari ini.

Pelayan Firman Pdt. Gumilar Kristianto mengusung tema khotbah “REST” (Resiliensi, Eksplorasi, Semangat Tumbuh) yang didasarkan pada perikop Alkitab Yesaya 58:1–12.

Realita Anak Muda: Kerinduan Spiritual di Tengah Pressing & ‘Mental Breakdown
Dalam pemaparannya, Pdt. Gumilar menyoroti potret keseharian remaja masa kini yang sarat dengan tekanan sosial, tumpukan tugas, hingga kejenuhan media sosial. Di balik layar monitor dan riuhnya aktivitas digital, banyak anak muda menyimpan luka serta kelelahan mental (mental breakdown).

Menariknya, merujuk pada temuan Bilangan Research, remaja zaman now sebenarnya memiliki kerinduan spiritual yang sangat tinggi dan ingin bertumbuh dalam iman. Namun, kenyataan pahit menunjukkan tidak sedikit yang akhirnya perlahan meninggalkan gereja.

Sering kali saat anak muda datang membawa kerentanan dan lukanya, mereka justru mendapati gereja berubah menjadi ‘ruang sidang’ yang siap menghakimi, bukan tempat berteduh,” ujar Pdt. Gumilar.

Kritik Yesaya 58: Refleksi atas Ritualisme Kosong
Kondisi ini direfleksikan dari Yesaya 58:1–12. Bangsa Israel pasca-pembuangan terjebak dalam ritualisme dan puasa yang formalitas semata—sebuah toxic positivity spiritual untuk menutupi krisis identitas dan trauma mereka. Namun, ibadah tersebut tidak berdampak pada realitas sosial dan malah diwarnai aksi saling menunjuk jari.

Nabi Yesaya menegaskan bahwa ibadah sejati yang dikehendaki Allah adalah membebaskan orang tertekan, merawat yang terluka, serta menghadirkan keadilan.

Di tengah pergumulan tersebut, Allah hadir dan menjawab kejujuran umat-Nya melalui klausa “Hineni” (Yesaya 58:9) yang berarti: “Ini Aku, Aku bersamamu.”

Panggilan Transformasi: Dari ‘Hater‘ Menjadi ‘Restorer
Lewat momentum Hari Remaja Oikoumenis ini, GKP Jemaat Bandung diajak untuk merevolusi peran gereja menjadi safe space (ruang aman). Tembok-tembok penghakiman legalistik harus dirobohkan agar remaja dapat bebas bereksplorasi dan memproses emosi mereka tanpa takut dihakimi.

Gereja dan umat senior dipanggil untuk bertransformasi:
Berhenti menjadi hater yang gemar menunjuk jari dan menyalahkan. Menjadi restorer (pemulih) yang membangun kembali reruntuhan emosional dan spiritual remaja (Yesaya 58:12).

Janji Pemulihan
Khotbah ditutup dengan pesan optimisme. Ketika gereja menjadi tempat yang memulihkan, remaja akan tumbuh menjadi manusia otentik yang imannya mengalir bagai “mata air yang tidak pernah mengecewakan” (Yesaya 58:11).

“Ayo remaja, datanglah ke gereja. Di sinilah rumah dan tempatmu untuk bertumbuh serta menemukan REST yang sesungguhnya,” pungkasnya. (ITW)

Leave a Reply