Membangun Ekosistem Pembinaan Iman yang Berkesinambungan dan Antar Generasi

Bandung, 31 Agustus – 1 September 2026 – Badan Penelitian dan Pembinaan (BPP) bersama Majelis Sinode Gereja Kristen Pasundan (GKP) menyelenggarakan Workshop Penyusunan Kurikulum Pembinaan Jemaat di Kantor Sinode GKP. Kegiatan ini merupakan langkah strategis dalam merancang arah pembinaan warga gereja yang lebih terintegrasi, berkelanjutan, dan relevan dengan tantangan kehidupan gereja masa kini. Workshop ini dilaksanakan dalam semangat membangun Pendidikan Kristiani sepanjang kehidupan yang mampu menolong setiap warga gereja bertumbuh dalam iman dari masa kanak-kanak hingga usia lanjut.

Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pimpinan Majelis Sinode GKP dan Badan Penelitian dan Pembinaan. Dari Majelis Sinode GKP hadir Pdt. Dr. Magyolin C. Tuasuun, Pdt. T. Adama Sihite, Th.M. , serta Pdt. Titin M. Gultom, Th.M. dan Dr. Seriwati Ginting hadir dan berkontribusi dalam diskusi dan perumusan arah kurikulum. Dari Badan Penelitian dan Pembinaan hadir Pdt. Ira Imelda, M.Th. selaku Ketua BPP, Dra. Adriani Sri Nastiti, M.S., Pdt. Elsa C. Tureay, M.Th., dan Imam Tjahjo Wibowo, S.E., M.A. yang bersama-sama terlibat dalam proses penyusunan kurikulum pembinaan warga gereja.

Workshop ini dilandasi oleh pemahaman bahwa pembinaan jemaat tidak dapat dipisahkan ke dalam program-program yang berjalan sendiri berdasarkan kategori usia. Sebaliknya, gereja perlu membangun suatu kurikulum yang memandang kehidupan warga gereja sebagai sebuah perjalanan iman yang berkesinambungan. Sejak masa balita, anak, remaja, pemuda, dewasa, hingga lansia, setiap tahap kehidupan memiliki kontribusi penting dalam membentuk pribadi yang semakin dewasa dalam Kristus. Karena itu, capaian pembelajaran pada setiap tahap harus menjadi fondasi bagi tahap berikutnya. Bahkan, kelompok lansia tidak lagi dipandang sebagai titik akhir pembinaan, melainkan sebagai sumber hikmat, pengalaman, dan keteladanan yang dapat memperkaya generasi-generasi berikutnya.

Pendekatan yang diusung dalam workshop ini adalah Pendidikan Kristiani Sepanjang Kehidupan dan Intergenerasional. Pendekatan ini menempatkan gereja sebagai komunitas belajar yang memungkinkan berbagai generasi bertemu, berbagi pengalaman, bertumbuh bersama, dan saling memperkaya dalam perjalanan iman. Pembinaan dipahami bukan hanya sebagai proses transfer pengetahuan, melainkan juga sebagai proses pembentukan kehidupan melalui relasi, pengalaman, pelayanan, dan kesaksian hidup yang berlangsung dalam komunitas gereja.

Hari pertama workshop difokuskan pada penentuan arah dan desain dasar kurikulum. Para peserta diajak membaca konteks pembinaan GKP dengan mengidentifikasi realitas, kebutuhan, persoalan, dan tantangan yang dihadapi warga gereja saat ini. Selanjutnya dilakukan pemetaan perjalanan kehidupan warga gereja dari balita hingga lansia, perumusan landasan Pendidikan Kristiani, tujuan pembinaan, profil warga gereja yang ingin dibentuk, serta penentuan ranah pertumbuhan dan perkembangan iman yang diharapkan terjadi pada setiap tahap kehidupan. Melalui proses ini terbentuk kerangka dasar kurikulum yang terdiri atas konteks, landasan, tujuan, profil, ranah pertumbuhan, dan progression pembinaan warga gereja.

Pada hari kedua, peserta melanjutkan proses dengan merumuskan capaian pembinaan untuk setiap tahap kehidupan, menguji kesinambungan antar tahap, menentukan tema dan isi pembelajaran, merancang pengalaman belajar, serta menyusun matriks kurikulum yang mengintegrasikan tujuan, capaian, isi, pengalaman pembelajaran, dan penilaian. Seluruh rancangan kemudian diuji dari perspektif teologis, kontekstual, berkelanjutan, intergenerasional, transformatif, dan inklusif sebelum difinalisasi menjadi kerangka kurikulum dan rencana tindak lanjut yang akan dikembangkan lebih lanjut.

Melalui workshop ini, GKP menegaskan komitmennya untuk membangun ekosistem pembinaan iman yang berkesinambungan dan intergenerasional. Ekosistem ini diharapkan mampu menolong setiap warga gereja bertumbuh secara utuh dalam iman, karakter, spiritualitas, dan keterlibatan pelayanan. Lebih jauh lagi, kurikulum yang sedang dirancang diharapkan dapat menjadi pedoman bagi jemaat-jemaat GKP dalam menghadirkan pembinaan yang relevan dengan konteks kehidupan masa kini sekaligus setia pada panggilan gereja untuk membentuk murid-murid Kristus sepanjang hayat.

Kegiatan ini menjadi tonggak penting bagi upaya GKP untuk memperkuat budaya belajar dalam gereja. Dengan membangun kurikulum yang berkelanjutan dan intergenerasional, gereja tidak hanya mewariskan pengetahuan iman, tetapi juga menciptakan ruang perjumpaan antargenerasi yang memungkinkan setiap warga gereja belajar satu sama lain, bertumbuh bersama, dan menghadirkan kesaksian Kristus secara nyata di tengah masyarakat. Sebuah gereja yang sehat bukanlah gereja yang hanya memperhatikan satu kelompok usia tertentu, melainkan gereja yang mampu berjalan bersama seluruh generasi dalam satu perjalanan iman yang utuh dan berkesinambungan.

Leave a Reply