At My Weakest
“Ya Tuhan ALLAH, ingatlah kiranya kepadaku dan buatlah aku kuat, sekali ini saja, ya Allah…”
Hakim-hakim 16:28
Ada ironi besar di akhir hidup Simson. Sepanjang hidupnya ia dikenal sebagai orang kuat, tetapi justru ketika ia berada at his weakest, ia mulai menyadari dari mana kekuatannya sebenarnya berasal. Hakim-hakim 16:23–31 membawa kita kepada Simson yang sudah kehilangan hampir semuanya: matanya, kebebasannya, kekuatannya, bahkan harga dirinya. Ia yang dahulu ditakuti kini dipertontonkan sebagai bahan tertawaan di hadapan orang Filistin. Mereka bahkan menganggap kekalahan Simson sebagai kemenangan Dagon. Namun di tengah keramaian itu terdengar doa sederhana dari seorang yang sudah hancur: “Ya Tuhan ALLAH, ingatlah kiranya kepadaku dan buatlah aku kuat…” Simson yang dahulu terbiasa menggunakan kekuatannya sendiri kini meminta kekuatan. Ia mulai mengerti bahwa kekuatan sejatinya tidak pernah berasal dari dirinya. Tragisnya, ia baru menyadarinya setelah kehilangan hampir segala sesuatu. Dan Tuhan masih mendengarkan doa seorang manusia yang datang kepada-Nya dari titik terendah hidupnya.
Kita pun sering baru sadar betapa rapuhnya diri kita ketika hal-hal yang selama ini membuat kita merasa kuat tiba-tiba tidak lagi bisa diandalkan. Ada masa ketika skill kita tidak mampu membereskan masalah. Uang ternyata tidak bisa membeli ketenangan. Jabatan tidak bisa menyembuhkan kesepian. Relasi yang kita pikir aman ternyata bisa berubah. Bahkan kalimat “I can handle this” yang selama ini kita banggakan suatu hari berubah menjadi, “Tuhan, aku sudah nggak sanggup.” Anehnya, kita sering menganggap momen itu sebagai kegagalan. Kita malu kalau terlihat lemah, menangis, bingung, atau mengakui bahwa kita butuh pertolongan. Padahal mungkin at my weakest bukan selalu tempat di mana Tuhan paling jauh. Bisa jadi justru di sanalah kita berhenti berpura-pura kuat dan mulai benar-benar bersandar kepada-Nya. Kelemahan meruntuhkan ilusi bahwa semuanya ada dalam kontrol kita. Dan ketika tidak ada lagi yang bisa kita genggam, kita akhirnya belajar membuka tangan kepada Tuhan.
Karena itu jangan terlalu cepat membenci musim ketika hidup terasa lemah. Mungkin kamu sedang gagal. Mungkin rencana yang kamu bangun berantakan. Mungkin ada konsekuensi dari pilihan-pilihanmu sendiri yang sekarang harus kamu hadapi. Kisah Simson tidak mengajarkan bahwa Tuhan selalu menghapus semua konsekuensi, tetapi kisahnya memberi pengharapan bahwa kegagalan kita tidak membuat anugerah Tuhan kehabisan jalan. Selama kita masih dapat berkata, “Tuhan, ingatlah aku,” selalu ada ruang untuk kembali bergantung kepada-Nya. Kita tidak harus menunggu menjadi kuat untuk datang kepada Tuhan. Datanglah dengan lelahmu, ketakutanmu, kegagalanmu, bahkan dengan hidup yang sedang berantakan. Sebab iman bukan berkata, “Aku pasti sanggup.” Iman adalah keberanian berkata, “Tuhan, aku tidak sanggup tanpa-Mu.” Dan mungkin justru at my weakest, kita akhirnya menemukan bahwa kekuatan terbesar bukan ketika kita mampu berdiri sendiri, tetapi ketika kita tahu kepada Siapa kita harus bersandar.
Refleksi:
Apa yang selama ini membuatku merasa kuat dan aman, tetapi tanpa sadar telah membuatku lebih mengandalkan diriku sendiri daripada Tuhan?
Doa
Tuhan, ketika aku berada di titik terlemah, ajarku untuk tidak kehilangan pengharapan. Runtuhkan kesombonganku yang merasa mampu sendiri dan ajarku bersandar kepada-Mu. Ingatlah aku, Tuhan, dan berikan kekuatan yang berasal dari-Mu untuk menjalani apa pun yang harus kuhadapi hari ini. Amin.
