Refleksi Harian: Yehezkiel 12:17-28

Anxiety

“Hai anak manusia, makanlah makananmu dengan gemetar dan minumlah airmu dengan menggigil dan dengan hati yang cemas.”
Yehezkiel 12:18

Ada masa ketika anxiety bukan muncul karena sesuatu yang buruk sudah terjadi, tetapi karena kita nggak tahu apa yang akan terjadi. Gambaran seperti inilah yang muncul dalam Yehezkiel 12:17-28. Yehezkiel hidup bersama umat yang sedang menghadapi masa penuh ketidakpastian, sementara Yerusalem menuju kehancuran sebagai konsekuensi dari ketidaksetiaan dan kekerasan umat. Tuhan bahkan meminta Yehezkiel makan dengan gemetar dan minum dengan hati cemas sebagai tindakan simbolis untuk menggambarkan kegelisahan yang akan dialami penduduk Yerusalem. Menariknya, teks ini memperlihatkan dua respons terhadap masa depan: ada yang begitu takut sampai kesehariannya dikuasai kecemasan, tetapi ada juga yang meremehkan peringatan Tuhan karena merasa apa yang dinubuatkan belum juga terjadi. Keduanya kehilangan cara yang sehat untuk menjalani hari ini.

Kita pun bisa mengalaminya. Tubuh kita masih berada di hari Kamis, tetapi pikiran sudah pergi ke bulan depan, bahkan beberapa tahun ke depan. Gimana kalau pekerjaan ini nggak bertahan? Gimana kalau kondisi keuangan makin sulit? Gimana kalau sakit? Gimana dengan anak-anak nanti? Gimana kalau hubungan ini gagal? Gimana pelayanan ke depan? Belum terjadi, tetapi pikiran sudah membuat begitu banyak skenario sampai hati ikut lelah. Anxiety membuat sesuatu yang belum tentu terjadi terasa seolah sedang terjadi. Namun iman bukan berarti kita harus berpura-pura santai atau merasa bersalah karena sedang cemas. Tuhan tidak meminta kita menyangkal kekhawatiran. Sebaliknya, kita diajak membawa kecemasan itu kepada-Nya sambil belajar membedakan mana yang memang perlu kita kerjakan hari ini dan mana yang sebenarnya belum perlu kita tanggung sekarang.

Mungkin masa depan memang nggak selalu bisa diprediksi. Kita juga tidak punya kontrol atas semua yang akan terjadi. Tetapi jangan sampai ketidakpastian hari esok mengambil damai yang Tuhan berikan untuk hari ini. Ada keputusan yang bisa kita ambil hari ini, ambillah. Ada kesalahan yang harus dibereskan, bereskanlah. Ada orang yang perlu kita kasihi, kasihilah. Ada tanggung jawab yang Tuhan percayakan, kerjakanlah. Dan untuk hal-hal yang berada di luar kendali kita, belajarlah menyerahkannya kepada Tuhan. Kita tidak harus mempunyai seluruh jawaban tentang masa depan untuk dapat menjalani hari ini dengan iman. Ketika pikiran mulai berlari terlalu jauh ke depan, berhentilah sejenak dan ingat: hidup kita masih ada di sini, hari ini. Tuhan pun mengundang kita untuk berjalan bersama-Nya hari ini.

Refleksi

  1. Apakah akhir-akhir ini saya sedang memikul sesuatu yang sebenarnya belum terjadi?
  2. Apa yang sungguh-sungguh perlu saya kerjakan hari ini, dan apa yang perlu saya lepaskan dari genggaman lalu percayakan kepada Tuhan?

Doa

Tuhan, saat kecemasan memenuhi pikiran kami, ajar kami untuk berhenti sejenak dan percaya kepada-Mu. Berikan kami kekuatan menjalani hari ini, serta iman untuk menyerahkan hari esok ke dalam tangan-Mu. Amin.

Leave a Reply