Keberhasilan dan Kesetiaan
“Ia mempunyai cabang-cabang yang kuat, yang dapat menjadi tongkat kerajaan; tumbuhnya meninggi sampai ke antara awan-awan, dan kelihatan karena tingginya dan karena banyaknya rantingnya.” Yehezkiel 19:11
Ada masa ketika hidup terasa seperti pohon yang tumbuh subur. Karier berkembang, bisnis maju, pendidikan semakin tinggi, pelayanan dipercaya, kondisi finansial membaik, dan pencapaian demi pencapaian mulai terlihat. Tidak ada yang salah dengan keberhasilan. Yehezkiel 19:10–14 bahkan menggambarkan Yehuda seperti pohon anggur yang ditanam dekat air, berbuah lebat, bercabang banyak, dan mempunyai batang yang kuat untuk menjadi tongkat pemerintahan. Gambaran ini merupakan metafora tentang Yehuda dan kepemimpinannya yang pernah memiliki kekuatan serta potensi besar. Namun suasana teks berubah drastis. Pohon itu tercabut, menjadi kering, dan akhirnya terbakar. Melalui nyanyian ratapan ini, Yehezkiel memperlihatkan sebuah ironi: memiliki kekuatan dan keberhasilan tidak sama dengan memiliki kesetiaan. Apa yang terlihat kuat dari luar ternyata dapat runtuh ketika kehidupan di dalamnya semakin jauh dari kehendak Tuhan.
Kita hidup dalam zaman yang sangat menghargai pencapaian. Media sosial bahkan memungkinkan kita melihat keberhasilan orang lain setiap hari: karier baru, wisuda, rumah baru, traveling, investasi, bisnis yang berkembang, bahkan pelayanan yang semakin dikenal. Tanpa sadar kita mulai mengukur kehidupan dengan pertanyaan, “Seberapa jauh saya sudah berhasil?” Padahal Tuhan juga mengajak kita mengajukan pertanyaan yang lebih dalam: “Seberapa setia saya ketika keberhasilan itu datang?” Sebab ujian kehidupan ternyata bukan hanya ketika kita berada dalam kesulitan, tetapi juga ketika semuanya berjalan baik. Saat memiliki sedikit, kita mudah menyadari bahwa kita membutuhkan Tuhan. Namun ketika memiliki banyak pilihan, uang, pengetahuan, pengaruh, koneksi, dan kekuasaan, kita dapat tergoda merasa mampu berjalan sendiri. Keberhasilan adalah berkat ketika membawa kita semakin dekat kepada Tuhan, tetapi dapat menjadi jebakan ketika membuat kita merasa tidak lagi membutuhkan-Nya.
Karena itu, jangan hanya berdoa, “Tuhan, buatlah aku berhasil.” Beranilah menambahkan, “Tuhan, buatlah aku tetap setia ketika Engkau mempercayakan keberhasilan kepadaku.” Kita tentu boleh mempunyai target besar, mengejar pendidikan terbaik, membangun karier, mengembangkan usaha, mengelola investasi, atau bermimpi mencapai sesuatu yang lebih tinggi. Tetapi jangan sampai dalam perjalanan menuju puncak kita kehilangan diri sendiri, keluarga, integritas, kepedulian kepada sesama, dan terutama hubungan dengan Tuhan. Pada akhirnya, ukuran kehidupan bukan sekadar seberapa tinggi kita pernah naik, tetapi siapa diri kita ketika berada di sana. Keberhasilan mungkin membuat nama kita dikenal manusia, tetapi kesetiaan membuat kehidupan kita berkenan kepada Tuhan. Maka ketika Tuhan mempercayakan lebih banyak kepada kita, biarlah kita bukan hanya berhasil, tetapi juga semakin rendah hati, bertanggung jawab, bersyukur, dan setia.
Refleksi
- Apakah keberhasilan yang saya raih membuat saya semakin dekat kepada Tuhan atau justru perlahan membuat saya merasa tidak membutuhkan-Nya?
- “Jika Tuhan memberikan lebih banyak berkat, pengaruh, kesempatan, dan keberhasilan kepada saya, apakah karakter dan kesetiaan saya juga siap bertumbuh untuk mengelolanya?”
- Jangan hanya mengejar bigger success. Kejarlah juga deeper faithfulness. Sebab keberhasilan berbicara tentang apa yang kita capai, sedangkan kesetiaan berbicara tentang siapa diri kita di hadapan Tuhan ketika mencapainya.
Doa
Tuhan, terima kasih untuk setiap kesempatan, kemampuan, pekerjaan, pelayanan, dan keberhasilan yang Engkau percayakan dalam hidupku. Ajarlah aku untuk tidak menjadikan keberhasilan sebagai alasan untuk melupakan-Mu. Ketika hidupku bertumbuh dan Engkau mempercayakan lebih banyak kepadaku, tumbuhkan juga kerendahan hati, integritas, kasih, dan kesetiaan di dalam diriku. Jagalah hatiku supaya aku tidak hanya sibuk mengejar apa yang terlihat berhasil di mata manusia, tetapi sungguh hidup berkenan di hadapan-Mu. Biarlah setiap keberhasilan menjadi jalan untuk memuliakan-Mu dan menjadi berkat bagi sesama. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.
