Tanggung Jawab untuk Merespons Panggilan Allah

Refleksi Keluaran 4:1-9

“Tetapi Musa menjawab: ‘Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu?'” (Keluaran 4:1)

Kisah Musa dalam Keluaran 4:1-9 terasa sangat dekat dengan kehidupan kita saat ini. Ketika Allah memanggil Musa, respons pertamanya bukan semangat atau antusiasme, tetapi keraguan. Musa takut ditolak, tidak dipercaya, dan merasa dirinya tidak cukup mampu. Secara hermeneutis, bagian ini menunjukkan bahwa masalah utama Musa bukanlah kurangnya informasi tentang kehendak Allah, melainkan keraguan terhadap dirinya sendiri dan bagaimana orang lain akan merespons panggilannya. Namun Allah tidak membatalkan panggilan itu. Sebaliknya, Allah memberikan tanda-tanda yang menegaskan bahwa keberhasilan pelayanan tidak bergantung pada kemampuan Musa, tetapi pada kuasa dan penyertaan Allah.

Kalau direnungkan, pengalaman Musa sering kali menjadi pengalaman banyak warga jemaat saat diminta terlibat dalam pelayanan gereja. Tidak sedikit yang berkata, “Saya belum siap,” “Saya tidak pandai bicara,” atau “Masih banyak orang yang lebih layak.” Padahal, Allah sering memakai orang biasa untuk mengerjakan hal-hal luar biasa. Tongkat gembala yang sederhana di tangan Musa menjadi alat yang dipakai Allah untuk menunjukkan kuasa-Nya. Ini mengingatkan kita bahwa Tuhan lebih melihat kesediaan hati daripada sederet kemampuan yang kita miliki.

Dalam konteks pelayanan di Gereja Kristen Pasundan (GKP), panggilan Allah hadir dalam berbagai bentuk. Ada yang dipanggil menjadi anggota Komisi, melayani di bidang anak, remaja, pemuda, musik, diakonia, atau pendidikan jemaat. Ada pula yang dipercaya menjadi Majelis Jemaat dengan tanggung jawab menggembalakan dan membangun kehidupan bergereja. Tidak semua pelayanan selalu terlihat besar atau mendapat sorotan, tetapi setiap tugas memiliki nilai yang sama di hadapan Tuhan. Tantangannya adalah apakah kita mau merespons panggilan itu dengan iman atau justru terus mencari alasan untuk menghindarinya.

Sebagai generasi masa kini, kita hidup di tengah kesibukan pekerjaan, studi, keluarga, dan beragam aktivitas lainnya. Kadang pelayanan dianggap sebagai tambahan beban, bukan kesempatan bertumbuh. Padahal, melalui pelayanan, Tuhan sedang membentuk karakter, memperluas dampak hidup kita, dan menghadirkan berkat bagi banyak orang. Seperti Musa yang diperlengkapi Allah ketika melangkah, demikian juga warga jemaat yang bersedia melayani akan mengalami penyertaan Tuhan dalam prosesnya. Kita tidak harus menunggu merasa sempurna untuk mulai melayani, karena sering kali kemampuan baru berkembang ketika kita berani melangkah dalam ketaatan.

Karena itu, refleksi dari Keluaran 4:1-9 mengajak kita untuk berhenti fokus pada keterbatasan diri dan mulai memercayai kuasa Allah yang memanggil. Gereja membutuhkan orang-orang yang bersedia berkata, “Tuhan, pakailah saya,” baik sebagai anggota Komisi, Majelis Jemaat, pelayan liturgi, pengurus kategorial, maupun dalam berbagai aktivitas pelayanan lainnya di lingkungan GKP. Panggilan Allah bukan sekadar undangan untuk bekerja bagi gereja, tetapi kesempatan untuk ikut ambil bagian dalam karya-Nya. Ketika Tuhan memanggil, tanggung jawab kita bukan mencari alasan untuk mundur, melainkan memberikan respons iman dan ketaatan dengan hati yang siap melayani. Amin.

Leave a Reply