Doa Adalah Mengetuk Hati Allah yang Pemurah Bukan Pemarah

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara2ku yang baik. Semoga pagi ini, kita menyongsong hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Sebab, karena Dia-lah, kita dan keluarga kita masih diberi umur kehidupan.

Firman Tuhan yang hendak kita renungkan adalah Lukas 28:11-14, ÔÇťOrang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; (12) aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. (13) Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. (14) Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Saudaraku, ada dua sikap manusia di hadapan Tuhan. Pertama, tipe manusia yang merasa punya prestasi keagamaan. Dia merasa semua tuntunan agama sudah diikuti. Semua kewajiban agama telah dipenuhi. Sehingga perjumpaan dengan Tuhan lebih bersifat laporan keberhasilan. Doa merupakan momen membeberkan segala hal yang berhasil dicapainya.

Orang Farisi termasuk tipe itu pada jaman Tuhan Yesus. Orang terkemuka. Dihormati di kalangan masyarakat. Memakai istilah sekarang, mereka adalah para elit keagamaan. Seakan-seakan penguasa bidang keagamaan. Mereka pun merasa punya kewenangan menentukan mana orang yang layak dan tidak di hadapan Tuhan. Kemudian mereka bisa dengan mudah menjatuhkan sangsi berat atas nama agama. Terutama kepada orang berpandangan berbeda.

Orang tipe seperti itulah, doa pun bukan momen perjumpaan yang diisi kerendahan hati. Doa lebih mengagungkan diri sendiri, merendahkan orang lain. Doa itu pameran kesuksesan. Mereka merasa sudah benar. Sudah suci. Semua ketentuan agama telah tuntas dijalani.

Karena itu, doanya penuh keangkuhan. Isi doanya bukan permohonan kepada Allah, melainkan lebih menegaskan bahwa dirinya bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan pula pemungut cukai. Bahkan bukan seperti manusia lainnya.

Orang seperti orang Farisi ini, datang kepada Tuhan dengan kepala tegak dan dada penuh kepongahan. Merasa orang baik-baik. Bukan bagian dari sederet nama-nama yang mengotori masyarakat dengan praktik hidup yang merugikan orang lain. Bahkan, hal puasa yang dijalaninya dan persepuluhan yang ditaati, dibeberkan dalam doanya untuk menegaskan bahwa ia orang benar. Jelas, orang Farisi datang ke tempat ibadah dan berdoa, bukan lantaran butuh pembenaran dari Allah. Dia butuh pengakuan atas segala prestasi keagamaannya.!

Saudaraku, lain hal profil pemungut cukai. Ia merasa hidupnya sarat kesalahan. Perbuatannya penuh kegagalan mewujudkan bimbingan dan nasihat keagamaan. Ia merasa kecil. Dosanya terlalu besar. Kepalanya tertunduk, ia tidak memiliki keberanian menatap wajah Ilahi. Tidak heran ia tidak mempunyai keberanian mendekatkan diri pada Tuhan. Ia merasa terlalu kotor di hadapan Tuhan yang suci. Sikapnya penuh sesal. Sesal bahwa ia telah gagal memberikan sikap terbaik pada Tuhan.

Saudaraku, di mata Tuhan, orang Farisi seperti itu menggambarkan orang yang merasa tidak lagi memerlukan pembenaran Tuhan. Ia telah merasa benar. Tipe manusia seperti ini bisa saja kita temukan saat kini. Dalam hal ini, orang-orang yang menempatkan agama jadi pameran kesalehan. Busana yang dikenakan, bukan lagi menyangkut kain penutup tubuh. Lewat busana, mereka ingin menyampaikan pesan kepada khalayak bahwa dirinya adalah orang saleh, ini, lho, kami kaum tak bercacat dalam agama. Akhirnya, sikap kesombongan yang menonjol, merasa lebih saleh, suci dan benar.

Lain halnya, sang pemungut cukai. Dia merasa dirinya tidak layak di hadapan Tuhan. Ia malu. Terlalu jauh ia tersesat. Sehingga jika dia diterima Tuhan dengan segala cacat-cela perilakunya, oh itu merupakan anugerah besar. Pemberian tak ternilai. Pemberian yang betul-betul sangat berharga. Doa baginya mengetuk hati Allah yang Pemurah bukan Pemarah. Dengan Allah yang berkenan mendengar doanya, buat sang pemungut cukai, itu sudah merupakan belas kasihan tidak bertara. Allah yang mau mendengar lirih permohonannya, itu sudah merupakan anugerah penerimaan Tuhan yang luar biasa.

Saudaraku, Yesus datang bukan untuk tipe orang Farisi. Tuhan Yesus datang sebagai tabib. Sedangkan yang membutuhkan tabib adalah orang sakit. Orang seperti apakah itu? Yaitu orang yang tidak layak. Kotor. Orang- orang yang menengadah ke Allah pun tidak berani. Rendah hati di hadapan Tuhan, sebab Allah begitu agung. Ia menatap dirinya laksana debu di hadapan Allah. Tidak mampu mengecam orang lain, bukankah posisi dirinya saja adalah orang yang sepatutnya dikecam? Kepada orang seperti itulah, Yesus mau menderita. Dia membuka hati-Nya menerima orang-orang yang tidak sempurna. Bagi Tuhan Yesus, orang yang tidak pameran prestasi keagamaan, dia itulah yang akan ditinggikan-Nya.

Saudaraku, mari kita mengisi hari-hari di Minggu pra-paskah atau minggu sengsara ini, dengan pengakuan jujur dan rendah hati. Bahwa benarlah kita orang bersalah. Dosa kerap kita lakukan. Kita terus- menerus teramat merindukan pembenaran Allah. Dialah telaga pengampunan kita. Puji syukur, Allah datang ke dunia dan bersedia menderita. Dia mengulurkan tangan-Nya kepada kita. Kita dijadikan layak, menjadi anak2-Nya. Dalam kondisi ketidak layakan, kita dirangkulnya. Dalam semangat kerendahan hati, itu kita berbenah diri. Semoga Allah saja yang menguatkan kita.