Great Power + Weak Self-Control = Destructive Leadership
“Pada waktu itu berkuasalah Roh TUHAN atas dia, sehingga singa itu dicabiknya seperti orang mencabik anak kambing, tanpa apa-apa di tangannya.”
Hakim-hakim 14:6
Simson itu literally powerful. Hakim-hakim 14 menceritakan bagaimana ia bisa mencabik seekor singa dengan tangan kosong ketika Roh Tuhan berkuasa atas dirinya. Tetapi ironisnya, orang yang begitu kuat menghadapi singa ternyata tidak selalu kuat menghadapi dirinya sendiri. Ia melihat perempuan Filistin, menginginkannya, dan bersikeras mendapatkan apa yang menurut pandangannya menyenangkan. Lalu datang kisah madu dari bangkai singa, teka-teki di pesta perkawinan, tekanan dari istrinya, sampai kemarahan yang berujung pada kekerasan. Alkitab tidak sedang mengagungkan semua tindakan Simson. Justru narator memperlihatkan paradoks: Allah tetap bekerja menjalankan rencana-Nya menghadapi Filistin, sementara Simson sendiri bergumul dengan impulsivitas, keinginan, dan emosinya. Ia punya great power, tetapi mulai memperlihatkan weak self-control.
Dan ternyata problem seperti ini masih sangat relate dengan kepemimpinan zaman sekarang. Kita mungkin tidak punya kekuatan seperti Simson, tetapi kita punya “power” dalam bentuk lain: jabatan, authority, akses informasi, uang, followers, popularitas, kompetensi, atau sekadar kemampuan memengaruhi orang lain. Masalahnya, semakin besar power kita, semakin berbahaya kalau self-control kita kecil. Pemimpin bisa sangat pintar menyelesaikan masalah organisasi, tetapi gampang meledak ketika dikritik. Bisa bicara panjang tentang strategi, tetapi sulit mendengarkan orang lain. Bisa mengambil keputusan besar, tetapi tidak mampu mengendalikan ego. Bisa mempunyai banyak followers, tetapi hidupnya justru dikendalikan oleh kebutuhan akan likes dan approval. Kita sering terobsesi menjadi strong leader, padahal kepemimpinan yang sehat bukan cuma soal bagaimana kita mengendalikan keadaan, tetapi juga bagaimana kita mengendalikan diri ketika keadaan tidak berjalan sesuai keinginan kita.
Karena itu, sebelum bertanya, “Seberapa besar pengaruh yang aku punya?”, mungkin kita perlu bertanya, “Seberapa baik aku mengelola diriku ketika punya pengaruh?” Jangan sampai kita berhasil mengalahkan “singa” di luar sana, tetapi kalah menghadapi ego, ambisi, kemarahan, gengsi, dan keinginan di dalam diri sendiri. Tuhan mungkin mempercayakan kepada kita kemampuan, kesempatan, posisi, atau otoritas yang besar. Tetapi power adalah kepercayaan, bukan pembenaran untuk melakukan apa yang kita mau. Leadership yang matang lahir ketika kemampuan berjalan bersama karakter, authority berjalan bersama humility, dan power berjalan bersama self-control. Sebab pada akhirnya, great power + weak self-control bisa menghasilkan destructive leadership. Tetapi great power + mature character dapat menghasilkan leadership yang menjadi berkat.
Refleksi
Coba berhenti sebentar dan tanyakan kepada diri sendiri:
- “Apa ‘singa’ yang berhasil aku kalahkan di luar, tetapi justru apa yang masih sulit aku kendalikan di dalam diriku?”
- Apakah itu ego, kemarahan, ambisi, keinginan untuk selalu benar, kebutuhan akan pengakuan, atau sulit menerima kritik?
- Jangan hanya meminta Tuhan memperbesar pengaruh kita.
- Mintalah juga Tuhan memperbesar kapasitas karakter kita untuk mengelola pengaruh tersebut.
Doa
Tuhan, terima kasih untuk setiap kemampuan, kesempatan, dan kepercayaan yang Engkau berikan kepadaku. Ajarlah aku bukan hanya menjadi pribadi yang kuat menghadapi persoalan, tetapi juga mampu menguasai diri. Jaga hatiku dari ego, amarah, ambisi, dan keinginan untuk menyalahgunakan pengaruh. Bentuklah karakterku agar setiap power yang Engkau percayakan kepadaku menjadi berkat bagi sesama. Amin.
