Refleksi Harian: Kolose 2:16–23

Christ-Centered Spirituality

“…tetapi tidak berpegang teguh kepada Kepala, dari mana seluruh tubuh, yang ditunjang dan diikat menjadi satu oleh urat-urat dan sendi-sendi, menerima pertumbuhan ilahinya.”
Kolose 2:19

Jemaat Kolose sedang berhadapan dengan berbagai ajaran yang menawarkan jalan untuk menjadi “lebih rohani”. Ada aturan tentang makanan dan minuman, hari-hari tertentu, praktik merendahkan diri, sampai pengalaman spiritual yang dianggap istimewa. Semuanya tampak saleh. Namun Paulus melihat bahaya yang lebih dalam: orang bisa sangat sibuk mengejar penampilan rohani tetapi kehilangan hubungan dengan Kristus. Karena itu Paulus mengatakan bahwa semua praktik keagamaan tidak boleh menggantikan Kristus sebagai “Kepala”. Bahkan aturan yang keras terhadap diri sendiri sekalipun, menurut Paulus, belum tentu sanggup mengubah keinginan hati (Kol. 2:23). Spiritualitas sejati bukan tentang seberapa religius kita terlihat, melainkan tentang seberapa erat hidup kita terhubung kepada Kristus.

Tanpa sadar kita pun dapat terjebak dalam pola yang sama. Kita rajin beribadah, pelayanan tidak pernah absen, membaca Alkitab setiap hari, aktif di kegiatan gereja, bahkan mungkin punya banyak pengetahuan rohani. Generasi sekarang mungkin menunjukkannya lewat posting ayat, konten rohani, atau playlist lagu worship; generasi sebelumnya mungkin menunjukkannya melalui kesetiaan pada tradisi dan kegiatan gereja. Semua itu baik. Masalah muncul ketika semuanya menjadi ukuran untuk merasa, “Saya lebih rohani daripada dia.” Kita kemudian mudah menghakimi orang yang cara beribadahnya berbeda, tidak mengikuti kebiasaan kita, atau perjalanan imannya tidak seperti kita. Aktif dalam kegiatan rohani belum tentu berarti dekat dengan Kristus. Kita bahkan dapat sibuk bekerja untuk Tuhan, tetapi perlahan kehilangan sukacita berjalan bersama Tuhan.

Christ-centered spirituality berarti Kristus kembali menjadi pusat, bukan sekadar salah satu bagian dari kehidupan kita. Kita berdoa bukan supaya terlihat saleh, tetapi karena ingin dekat dengan-Nya. Kita membaca firman bukan sekadar mengejar target, tetapi ingin mengenal suara-Nya. Kita melayani bukan untuk mendapatkan pengakuan, tetapi karena telah menerima kasih-Nya. Kita berbuat baik bukan supaya Tuhan lebih mengasihi kita, melainkan karena kita sudah dikasihi-Nya. Maka pertanyaan penting hari ini bukan, “Apakah saya sudah cukup rohani?” tetapi, “Apakah semua yang saya lakukan membawa saya semakin dekat kepada Kristus?” Jangan sampai tangan kita sibuk melayani-Nya, mulut kita sibuk berbicara tentang-Nya, tetapi hati kita perlahan menjauh dari-Nya. Sebab pusat kehidupan Kristen bukanlah religious performance, melainkan relationship with Christ.

Refleksi

Mari berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri:

  1. Apakah Kristus sungguh menjadi pusat kehidupan rohani saya?
  2. Adakah kegiatan, tradisi, jabatan pelayanan, pengetahuan Alkitab, atau pengalaman rohani yang diam-diam menjadi sumber kebanggaan saya?

Dan pertanyaan yang lebih dalam:

  1. Kalau semua aktivitas keagamaan itu dilepaskan dari saya, apakah saya masih menemukan sukacita hanya karena memiliki Kristus?
  2. Hari ini Tuhan mengundang kita kembali kepada yang terutama. Bukan sekadar melakukan lebih banyak untuk Kristus, tetapi hidup semakin dekat dengan Kristus.

Doa

Tuhan Yesus, ampunilah aku ketika kegiatan dan kebiasaan rohani justru membuatku merasa lebih baik daripada orang lain. Aku tidak ingin hanya terlihat dekat dengan-Mu, tetapi sungguh-sungguh hidup melekat kepada-Mu. Ajarlah aku berdoa, membaca firman, beribadah, melayani, bekerja, dan menjalani keseharianku dengan Engkau sebagai pusatnya. Ketika hatiku mulai mencari pengakuan manusia, tariklah aku kembali kepada-Mu. Biarlah semakin hari bukan diriku yang semakin terlihat, tetapi Kristus yang semakin nyata melalui hidupku. Jadilah Engkau pusat pikiran, keputusan, pelayanan, keluarga, pekerjaan, dan seluruh kehidupanku. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.

Leave a Reply